Selasa Sore, Rupiah Drop Jelang Rapat Federal Reserve

Rupiah - kumparan.comRupiah - kumparan.com

JAKARTA – Rupiah harus puas berada di teritori merah pada Selasa (30/7) sore ketika indeks AS cenderung bergerak menguat menjelang rapat kebijakan Federal Reserve di tengah pekan. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 15.56 WIB, Garuda melemah 8 poin atau 0,06% ke level Rp14.028 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.034 per dolar AS, terdepresiasi 24 poin atau 0,17% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.010 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia justru mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,12% menghampiri won Korea Selatan.

Dari , indeks dolar AS cenderung bergerak lebih tinggi pada hari Selasa, menjelang pertemuan Federal Reserve tengah pekan ini, yang diprediksi akan memangkas acuan. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,148 poin atau 0,15% ke level 98,192 pada pukul 13.02 WIB, melanjutkan tren positif pada perdagangan sebelumnya.

Seperti diberitakan Reuters, yen Jepang diperdagangkan mendekati level terendah tiga minggu terhadap dolar AS, setelah Bank of Japan mempertahankan kebijakan moneter mereka, seperti yang telah diprediksi pasar. Saat ini, fokus beralih ke pertemuan Federal Reserve yang berakhir Rabu (31/7) waktu setempat.

Investor sendiri telah memperkirakan bahwa bank sentral AS akan memangkas suku bunga acuan mereka sebesar 25 basis poin pada pertemuan kali ini. Namun, mereka juga masih mengamati petunjuk tentang apakah langkah tersebut (jika terealisasi) akan menjadi hanya satu kali atau yang pertama sebelum serangkaian pemotongan di rapat-rapat mendatang.

“Ada beberapa kelegaan bahwa rapat Bank of Japan berakhir tanpa kejutan, sehingga sekarang fokus beralih ke (rapat) ,” ujar manajer umum penelitian di Gaitame.Com Research Institute, Takuya Kanda. “Pemotongan suku bunga kali ini sudah diprediksi, namun akan ada pertanyaan apakah akan ada pemotongan lagi tahun ini. Namun, dengan pound sterling sangat lemah terhadap dolar AS, sulit untuk menjual greenback.”

Loading...