Makin Babak Belur, Rupiah Berakhir Dekati Level Rp13.900

Rupiah - www.teropongbisnis.comRupiah - www.teropongbisnis.com

JAKARTA – semakin terjerumus ke zona merah pada perdagangan Selasa (25/2) sore ketika kekhawatiran mengenai wabah corona masih menghantui meskipun sejumlah mata uang mampu rebound. Menurut laporan Index pada pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 15 poin atau 0,11% ke level Rp13.887 per .

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.893 per dolar AS, terdepresiasi 30 poin atau 0,21% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.863 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,65% dialami won Korea Selatan dan pelemahan terdalam sebesar 0,2% menghampiri rupiah.

Sejumlah mata uang Benua Kuning, seperti diberitakan Bloomberg, mampu rebound pada hari Selasa, didorong optimisme investor atas upaya untuk menghadang virus corona dan wacana tentang perkembangan potensi pengobatan. Meski demikian, rupiah masih terbebani berlanjutnya kekhawatiran investor mengenai penyebaran virus corona.

“Volatilitas dalam rupiah diperkirakan akan meningkat dalam beberapa hari ke depan ketika Indonesia mencoba mengatasi (dampak) situasi -19 di dalam negeri,” tutur pedagang valuta asing di INTL FCStone di Singapura, Mingze Wu. “Terlepas dari tingkat keparahan transmisi lokal, akan ada aksi beli yang kuat dan tekanan jual kuat di kedua sisi saat pelaku pasar memperdebatkan tentang seberapa mematikannya virus tersebut.”

Dari pasar global, indeks dolar AS harus bergerak lebih rendah, karena investor meningkatkan taruhan dengan tajam bahwa dampak yang berkembang dari wabah coronavirus akan mendorong penurunan suku bunga Federal Reserve. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,119 poin atau 0,12% ke level 99,240 pada pukul 11.42 WIB.

Dilansir Reuters, pasar dunia berada di ujung tanduk karena infeksi virus corona menyebar dengan cepat di luar China. Meski Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan itu belum menjadi pandemi, tetapi potensi tetap ada. Rantai pasokan di seluruh dunia macet setelah China mengunci diri karena sibuk memerangi virus, obligasi melonjak, dan harapan kenaikan suku bunga di AS telah menghilang.

“Ini sangat dramatis,” kata ahli strategi senior FX di National Australia Bank di Sydney, Rodrigo Catril. “Kami telah melihat tidak hanya repricing dari ekspektasi The Fed, tetapi penetapan harga kembali yang lebih besar karena bank sentral tersebut adalah yang benar-benar dapat melakukan sesuatu dalam hal memindahkan suku bunga tunai.”

Loading...