Dolar Bangkit, Rupiah Terjungkal di Akhir Transaksi

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (29/7) sore - detik.com

JAKARTA – Rupiah tidak berhasil mempertahankan posisi di teritori hijau pada Senin (29/7) sore, ketika indeks dolar perlahan menguat seiring dengan data bruto Negeri Paman Sam yang cukup positif. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda melemah 11 poin atau 0,08% ke level Rp14.020 per dolar .

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.010 per , terdepresiasi 9 poin atau 0,06% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.001 per . Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga tidak berdaya di hadapan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,24% menghampiri yuan China.

Dari global, indeks dolar AS mampu bergerak naik pada hari Senin, mendekati level tertinggi dua bulan, dikatrol data produk domestik bruto AS yang lebih baik dari konsensus . Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,013 poin atau 0,01% ke level 98,023 pada pukul 13.07 WIB, meski sebelumnya sempat dibuka di zona merah.

Seperti diberitakan Reuters, pada Jumat (26/7) waktu setempat, produk domestik bruto AS kuartal kedua 2019 dilaporkan meningkat 2,1% secara tahunan, di atas perkiraan pasar sebesar 1,8%, karena lonjakan belanja konsumen menumpulkan sebagian hambatan dari penurunan ekspor dan persediaan yang lebih kecil. Data ini lantas mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan ekspektasi yang mengatakan bahwa akan melakukan pemangkasan yang lebih kecil.

Pada rapat kebijakan yang berlangsung tengah pekan ini, Federal Reserve memang diperkirakan akan memangkas suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Tetapi, langkah tersebut secara luas dipandang sebagai tindakan pencegahan untuk melindungi ekonomi dari ketidakpastian global dan tekanan perdagangan.

“Yang menarik bagi semua orang saat ini adalah apakah AS akan memasuki siklus penurunan suku bunga penuh,” kata direktur valas di Societe Generale, Kyosuke Suzuki. “Angka produk domestik bruto AS sedikit lebih kuat dari yang diprediksi pasar, membuat pandangan AS memasuki siklus pelonggaran yang panjang.”

Loading...