Rebound di Awal Selasa, Rupiah Berusaha Kembalikan Otot

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

JAKARTA – berupaya mengembalikan penguatan ketika membuka perdagangan Selasa (17/12) ini. Menurut catatan Bloomberg Index, Garuda mengawali transaksi dengan menguat tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.005 per AS. Sebelumnya, spot harus ditutup melemah 20 poin atau 0,14% di posisi Rp14.010 per AS pada akhir Senin (16/12) kemarin.

“Pergerakan rupiah kemarin dipengaruhi oleh yang tidak sesuai dengan ekspektasi sehingga melemahkan rupiah, meskipun sentimen eksternal cukup mendukung,” papar Direktur PT Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir . “Intervensi yang dilakukan pemerintah dan Bank tidak serta-merta menguatkan rupiah, sehingga wajar kalau spot kemarin melemah.”

Sebagai informasi, neraca perdagangan bulan November 2019 mencatatkan defisit sebesar 1,33 miliar dolar AS, disebabkan oleh turunnya, baik nilai ekspor maupun impor, sebagai imbas dari perang dagang dan perlambatan . Pemerintah AS dan China sebenarnya telah menyepakati perjanjian perang dagang tahap pertama, tetapi belum memberikan keterangan lebih jelas terkait naskah dan tanggal resmi penandatanganan kedua belah pihak.

Sementara itu, Ahli Makro DBS Singapura, Chang Wei Liang, menuturkan, dengan yang diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya pada pekan ini bersamaan dengan perkembangan positif kesepakatan perdagangan AS-China, sentimen harusnya tetap mendukung rupiah. Ia pun memprediksi spot akan berkonsolidasi dengan kisaran Rp13.950 hingga Rp14.200 per dolar AS.

Analisis dari CNBC Indonesia juga memperkirakan bahwa rupiah kemungkinan dapat bergerak menguat pada perdagangan hari ini. Pasalnya, damai dagang antara AS dan China yang semakin di depan mata membuat investor mulai berani masuk ke aset-aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia. Meski demikian, karena naskah perjanjian belum selesai, investor belum terlalu berani bermain agresif.

Sedikit berbeda, Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Reny Eka Putri, mengatakan bahwa neraca perdagangan yang mengalami defisit masih akan membebani gerak rupiah. Pasalnya, hal tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi pasar yang mengharapkan surplus. Terlebih, menjelang akhir tahun, biasanya permintaan pasar terhadap dolar AS akan meningkat.

Loading...