Tren Positif Berlanjut, Rupiah Dibuka Naik 40 Poin

Rupiah - berkahtuhan.comRupiah - berkahtuhan.com

JAKARTA – Tren berlanjut pada Selasa (7/7) pagi. Menurut paparan Index, Garuda membuka dengan menguat 40 poin atau 0,27% ke level Rp14.450 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup naik 33 poin atau 0,29% di posisi Rp14.490 per AS pada hari Senin (6/7) kemarin.

Menurut analisis CNBC Indonesia, rupiah berpeluang kembali menguat pada perdagangan hari ini. Pasalnya, secara teknikal, penguatan rupiah yang terjadi kemarin membentuk pola shooting star. Pola ini sering muncul pada bulan April lalu ketika mata uang Garuda akhirnya mampu naik tajam. Pola ini sendiri kerap dijadikan sinyal pembalikan arah atau indeks dolar AS bergerak menurun.

“Sebelumnya, ada kecemasan jika rencana burden sharing antara dan pemerintah akhirnya terealisasi, inflasi Indonesia akan mengalami kenaikan akibat semakin banyaknya jumlah uang yang beredar,” tulis analisis CNBC Indonesia. “Namun, Gubernur BI, Perry Wardijo, kemarin sore mengatakan bahwa dampak inflasi yang akan ditimbulkan tidaklah besar.”

Awal pekan kemarin, mayoritas mata uang memang bergerak menguat melawan dolar AS, bahkan beberapa di antaranya naik dengan persentase cukup besar. Meskipun penguatan rupiah terbilang tipis, tetapi bisa menjadi awal yang baik untuk mengarungi pekan ini. “Bantuan datang dari China setelah indeks Shanghai Composite melesat lebih dari 5%,” sambung CNBC Indonesia.

Sedikit berbeda, TD Securities berujar bahwa pergerakan rupiah cenderung lebih rentan terhadap fluktuasi sentimen. Di antara mata uang Asia lainnya, rupiah memiliki volatilitas tertinggi dalam satu bulan terakhir. Pekan lalu misalnya, rupiah mencatat penurunan mingguan terbesar terhadap dolar AS sejak Maret karena melepas kepemilikan. Kebijakan-kebijakan yang kurang populer menjadi pemicu pelemahan nilai tukar mata uang Garuda.

“Rupiah cenderung lebih tertekan karena likuiditas dan volatilitas yang lebih tinggi (dibandingkan rupee India),” kata Mitul Kotecha, analis emerging market senior TD Securities, disalin dari Bisnis. “Terlepas dari harapan jeda musim panas di pasar, ada banyak kesempatan di tengah aksi risk-off dan akibatnya volatilitas meningkat pada bulan-bulan musim panas (Juli-Agustus).”

Loading...