Rupiah Dibuka Menguat Tipis di Perdagangan Akhir Pekan

Rupiah - m.harianjogja.comRupiah - m.harianjogja.com

Jakarta dibuka menguat tipis sebesar 3,7 poin atau 0,03 persen ke level Rp 14.136,3 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (22/3). Sebelumnya, Kamis (21/3), kurs Garuda berakhir terapresiasi 48 poin atau 0,33 persen ke posisi Rp 14.140 per USD.

Indeks yang mengukur gerak The terhadap enam mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,53 persen menjadi 96,271 di tengah lemahnya pound sterling akibat kekhawatiran bahwa akan berujung pada tidak adanya kesepakatan.

Pada Kamis (21/3), para pemimpin Uni Eropa (UE) melakukan pertemuan di Brussels untuk membentuk tanggapan bersama terhadap permintaan Perdana Menteri Inggris Theresa May selama pertemuan puncak 24 jam Dewan Eropa. Usai persetujuannya terkait Brexit 2 kali ditolak oleh parlemen Inggris, May menuntut Presiden Dewan Eropa Donald Tusk untuk menunda Brexit hingga 30 Juni, sebagai upaya untuk membujuk para pembuat undang-undang di negaranya agar mendukung kesepakatan Brexit.

Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa Inggris akan menghadapi keberangkatan yang mengganggu dari Uni Eropa apabila May kehilangan suara parlemen ketiga pada kesepakatan Brexit minggu depan, demikian seperti dilansir Antara.

Di sisi lain mata uang rupiah berhasil melanjutkan penguatannya berkat hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang bernada dovish. Sebagai informasi, () memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 2,25 persen hingga 2,5 persen.

Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, hingga akhir pekan ini pasar mata uang masih akan dipengaruhi oleh sentimen suku bunga The Fed tersebut. “The Fed juga bilang tidak ada urgensi menaikkan suku bunga acuan sampai akhir tahun. Hal ini tercermin dari plot yang disusun,” kata Josua, seperti dilansir Kontan.

Sementara itu, Direktur Utama Garuda Berjangka Ibrahim menambahkan jika keputusan Bank Indonesia untuk menahan BI 7-day repo rate (BI 7-DRR) juga ikut menyumbang sentimen positif untuk gerak rupiah. Bahkan dengan inflasi yang stabil serta defisit berjalan bisa ditekan, ke depannya bukan tidak mungkin jika BI akan menurunkan suku bunga.

Loading...