Menguat Tipis di Awal Selasa, Rupiah Diragukan Perkasa

Rupiah - finrollnews.comRupiah - finrollnews.com

JAKARTA – mampu sedikit bangkit pada Selasa (3/12) pagi, ketika juga bergerak naik. Menurut Bloomberg Index, mata uang Garuda dibuka menguat tipis 7 poin atau 0,05% ke level Rp14.118 per AS. Sebelumnya, spot berakhir melemah 17 poin atau 0,12% di posisi Rp14.125 per AS pada Senin (2/12) kemarin.

Pada transaksi sebelumnya, rupiah harus tertekan meski data China paling baru dilaporkan lebih baik dari perkiraan. Data indeks PMI China periode November 2019 dilaporkan berada di level 50,2. Data indeks PMI China tersebut menjadi indeks pertama kali yang tercatat berada di atas titik 50 sejak April kemarin.

“Faktor eksternal yang memengaruhi rupiah, yaitu ketidakpastian kesepakatan perdagangan parsial antara AS dan China,” ujar Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Bisnis. “Data manufaktur November yang menunjukkan tercepat dalam tiga tahun terakhir dikhawatirkan bisa memengaruhi niatan AS membuat kesepakatan damai dengan China.”

Rilis data inflasi bulan November yang baru saja diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) juga gagal mengatrol rupiah. Pasalnya, menurut Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, deadline kesepakatan antara AS dan China semakin dekat, yakni pada tanggal 15 Desember mendatang. “Rupiah hari ini kemungkinan bergerak antara Rp14.075 hingga Rp14.150 per dolar AS,” kata Josua.

Prediksi bahwa rupiah masih akan terdepresiasi juga dituturkan oleh CNBC Indonesia. Tanda-tanda pelemahan rupiah sudah terlihat di Non-Deliverable Market (NDF). NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. NDF seringkali memengaruhi psikologis pembentukan harga di spot dan karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh spot.

“Sentimen eksternal memang sedang tidak mendukung pelaku pasar untuk masuk ke Asia,” ulas tim riset CNBC Indonesia. “Investor khawatir terhadap genderang perang dagang yang kembali terdengar. Masih melibatkan AS, tetapi kali ini lawannya bukan China. Presiden AS, Donald Trump, menegaskan segera memberlakukan bea masuk untuk impor baja dan aluminium dari Brasil dan Argentina.”

Loading...