Otot Masih Kencang, Rupiah Dibuka Menguat 0,13%

Rupiah - merahputih.comRupiah - merahputih.com

JAKARTA – masih bertengger di area hijau pada Selasa (14/1) pagi. Menurut paparan Index, mata uang Garuda mengawali dengan menguat 18 poin atau 0,13% ke level Rp13.655 per AS. Sebelumnya, spot sudah berakhir naik hingga 99 poin atau 0,72% di posisi Rp13.673 per AS pada Senin (13/1) kemarin.

“Rupiah masih akan terapresiasi dalam jangka pendek. Apresiasi rupiah didorong oleh faktor internal dan eksternal,” ujar ekonom Bank Indonesia, Ryan Kiyanto, dilansir Kontan. “Dari dalam negeri, makroekonomi Indonesia mencatatkan kinerja positif dengan perincian, pertumbuhan Indonesia stabil di atas 5%. Kinerja positif makroekonomi mendorong minat untuk berinvestasi di Indonesia.”

Sementara, suntikan eksternal yang akan membuat rupiah tetap menguat adalah respon positif investor asing terhadap pelelangan Surat Utang Negara (SUN) dengan yield yang terus menurun serta rebound IHSG. Sebelumnya, pemerintah menggelar lelang SUN dalam dua mata uang asing pada Rabu (8/1). Penawaran yang masuk sebesar Rp81,54 triliun atau oversubscribe dari target maksimal yakni Rp22,5 triliun. Oversubscribe menunjukkan antusiasme investor asing terhadap Indonesia.

Optimisme menyambut kesepakatan dagang fase I antara Amerika Serikat (AS) dan China, direncanakan minggu ini, serta menurunnya tensi di Timur Tengah antara AS dan Iran juga menjadi stimulus penguatan rupiah dalam jangka pendek. Namun, untuk jangka menengah, belum diketahui kesepakatan selanjutnya antara AS dan China sehingga masih perlu berhati-hati.

“Rupiah masih mempunyai risiko pelemahan pada jangka menengah dan jangka panjang,” timpal ekonom Bank Permata, Josua Pardede. “Faktor eksternal yang akan mengancam rupiah adalah kebijakan moneter The Fed, dinamika pemilu AS pada 3 November tahun ini, serta tensi geopolitik yang mungkin muncul secara spontan.”

Josua memprediksi, dalam jangka pendek, rupiah akan bergerak pada rentang Rp13.600 hingga Rp13.800 per dolar AS, sedangkan untuk jangka menengah dan panjang, diperkirakan akan cenderung stabil di kisaran Rp14.000 per dolar AS. Sementara, Ryan memprediksi spot akan bergulir di kisaran Rp13.650 hingga Rp13.750 per dolar AS dalam jangka pendek.

Loading...