Awal November, Rupiah Dibuka Melemah Jelang Rilis Inflasi

Rupiah - www.bbc.comRupiah - www.bbc.com

JAKARTA – Rupiah masih belum mampu bangkit ke zona hijau pada Jumat (1/11) pagi, di tengah penantian rilis data inflasi Indonesia. Menurut paparan Bloomberg Index, mata Garuda mengawali transaksi dengan melemah 17 poin atau 0,12% ke level Rp14.060 per dolar AS. Sebelumnya, spot sudah berakhir terdepresiasi 12 poin atau 0,09% di posisi Rp14.043 per dolar AS pada Kamis (31/10) kemarin.

“Aksi ambil untung yang dilakukan investor karena sudah price in terhadap pemangkasan suku bunga The Federal Reserve sejak awal pekan ini membuat rupiah loyo,” papar ekonom Central Asia, David Sumual, dilansir Kontan. “Belum lagi, estimasi awal Gross Domestic Product (GDP) AS kuartal III-2019 ternyata mencapai 1,9%. Angka ini lebih tinggi dari hasil analis yang memprediksi di level 1,6%.”

Sementara itu, menurut analisis CNBC Indonesia, pelemahan rupiah besar kemungkinan karena faktor musiman. Kebutuhan valas korporasi memang sedang tinggi saat akhir bulan karena ada kewajiban pembayaran utang, impor, dan sebagainya. Rupiah pun mengalami tekanan dan akhirnya harus tergelincir ke zona merah.

Di lain pihak, harga obligasi pemerintah Indonesia masih dapat mencatatkan penguatan seiring dengan sentimen positif dari sentral AS (The Fed) yang memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1,5-1,75%. Pemangkasan suku bunga itu merupakan baik bagi instrumen keuangan berbasis rupiah, seperti obligasi, karena suku bunga acuan yang rendah berarti dolar AS kehilangan katalis positif untuk menarik aksi beli pelaku pasar.

Saat ini, pasar menantikan laporan inflasi Indonesia bulan Oktober 2019 yang menurut akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada hari ini. Sejumlah ekonom memperkirakan, inflasi pada bulan Oktober 2019 mencapai 3,23 persen (year-on-year), atau 0,11 persen (month-to-month) dari bulan sebelumnya yang tercatat deflasi 0,27 persen (month-to-month).

Loading...