Peringkat Utang Indonesia Turun, Rupiah Dibuka Melemah

Rupiah dan dollarRupiah melemah membuka perdagangan Senin (20/4) pagi - jabarnews.com

JAKARTA – harus terpeleset ke area merah ketika membuka Senin (20/4) pagi seiring penurunan peringkat . Menurut laporan Bloomberg Index, Garuda mengawali dengan melemah tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp15.470 per . Kemudian, spot kembali terdepresiasi 34 poin atau 0,22% ke posisi Rp15.499 per . Sebelumnya, rupiah ditutup naik tajam 175 poin atau 1,12% pada Jumat (17/4) lalu.

“Penguatan rupiah pada pekan kemarin didorong oleh pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, yang memprediksi PDB kuartal I/2020 akan tertahan di kisaran 4,5% hingga 4,6%,” tutur Direktur Utama TRFK Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Bisnis. “Angka tersebut, meski melambat dari periode sama tahun lalu, masih lebih baik dibandingkan PDB kuartal I negara lain seperti China yang terkontraksi -6,8%.”

Di samping itu, Bank Indonesia di akhir pekan kemarin sedikit lega karena penguatan mata uang rupiah ditopang penuh oleh data eksternal yang cukup bagus, sehingga tidak terlalu besar melakukan intervensi di pasar valas, obligasi, maupun SUN di perdagangan DNDF. Hal ini menjadi berkah tersendiri bagi mata uang rupiah, sekaligus membuktikan bahwa fundamental dalam negeri cukup bagus.

Sayangnya, penurunan outlook utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) dari sebelumnya stabil menjadi negatif, bisa membuat langkah rupiah gontai. S&P pada Jumat kemarin memberi rating BBB/A-2 seiring dengan depresiasi nilai tukar rupiah dan beban utang dalam beberapa tahun ke depan akibat kebijakan fiskal dalam menghadapi pandemi (COVID-19).

“Perkembangan usaha Presiden AS, Donald Trump, untuk melonggarkan lockdown demi menghidupkan kembali ekonomi AS akan memberi sentimen positif bagi emerging market, termasuk rupiah,” kata ekonom Bank Permata, Josua Pardede, dilansir Kontan. “Namun, dalam jangka pendek, sentimen perubahan outlook peringkat kredit Indonesia dari S&P dari stabil menjadi negatif berpotensi membuat rupiah terkoreksi.”

Loading...