Rupiah Dekati level 14.000, Pemerintah dan BI Tak Bisa Santai Lagi

Rupiah turun anjlok dari hari ke hari kian memprihatinkan. Perlahan namun pasti, makin mendekat ke level 14.000 per Dolar AS. Pada penutupan akhir pekan di hari Jumat lalu (21/8), Rupiah bahkan di level Rp 13.940 /. Tak kunjung membaiknya kondisi Rupiah ini membuat mayoritas seluruh lapisan masyarakat merasakan kekhawatirannya, terlebih bagi dan Bank Indonesia. Sikap keduanya saat ini sangat berbeda dengan beberapa waktu lalu, dimana dan Bank Indonesia ketika itu terkesan santai menyikapi ambruknya Rupiah.

Dibandingkan dengan krisis moneter yang melanda pada tahun lalu, bisa jadi Indonesia sudah masuk pada krisis skala kecil. Peristiwa krisis 17 tahun lalu itu pernah membawa Rupiah pada level Rp 16.800 perDolar AS. Buka tidak mungkin Indonesia akan kembali mengalami pengulangan sejarah. Pemerintah sudah mulai rajin melakukan rapat koordinasi untuk mengkaji perkembangan Indonesia. Sementara Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan moneter untuk memperketat permintaan Dolar AS.

Ismed Hasan Putro selaku Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) menyampaikan permintaannya pada pemerintah untuk segera mengambil sikap terkait melonjaknya Dolar. Menurut Ismed, keadaan ini sangat tidak menguntungkan para pelaku . “Khususnya kepada pemerintah fiskal dan moneter, (agar) dalam waktu singkat dapat menstabilkan nilai rupiah untuk memberi kepastian kepada kami (pelaku ),” ujarnya saat ditemui di Jakarta, kemarin (22/8). Mantan Direktur PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) ini juga meminta pemerintah untuk segera membuat aturan yang jelas dan menggandeng serta para pelaku dalam menentukan kebijakan. “Harus ada policy yang berani. Kami berharap pemerintah menunjukkan kepada dunia usaha,” tegasnya.”Pak Jokowi harus takeover sebagai Presiden dan konsolidasi internal supaya meyakinkan pasar dan meredam gejolak pasar. Libatkan juga pelaku pasar bisnis dan supaya bersinergi,” lanjut Ismed.

Loading...