Senin Pagi, Rupiah dan Dolar Kompak Melemah

Senin pagi rupiah melemah - katadata.co.id

masih belum bisa beranjak dari zona merah pada Senin (29/6) pagi, meski greenback juga terpantau turun. Menurut data Index, Garuda dibuka melemah tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.225 per AS. Sementara itu, mata uang Paman Sam terdepresiasi 0,76 poin atau 0,08% ke posisi 97,357 pada pukul 09.16 WIB.

Dilansir dari Bisnis, pelaku tampaknya kembali cemas dengan perkembangan penyebaran COVID-19 yang belum kunjung reda, bahkan di beberapa terdapat lonjakan kasus baru. Kenaikan kasus itu akan membuat sejumlah kembali menerapkan karantina wilayah (lockdown) meski lingkupnya terbatas.

“Jumlah kasus akibat (COVID-19) yang terus meningkat tajam di AS, bahkan membukukan rekor penambahan kasus per hari, membuat sentimen pelaku pasar memburuk,” tulis CNBC Indonesia dalam sebuah catatan. “Beberapa negara bagian di AS bahkan menunda pelonggaran kebijakan lockdown, sehingga pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam kemungkinan berlangsung lebih lama.”

Selain itu, fokus pasar juga tengah tertuju pada rilis prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh IMF yang akan berada di angka -0,3% sepanjang tahun 2020 ini. Meski demikian, pada tahun berikutnya, produk domestik bruto () dalam negeri diperkirakan kembali mencatatkan pertumbuhan lebih dari 6,1%.

“Rupiah pada perdagangan hari ini masih berpeluang melanjutkan tren pelemahan, terlebih karena pasar saat ini masih diselimuti ketidakpastian yang tinggi,” tutur Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dikutip dari Kontan. “Pasar saat ini masih cenderung akan menghindari aset berisiko seiring rilis dari IMF yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi.”

Hampir senada, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, memperkirakan, rupiah pada hari ini akan kembali mengalami koreksi. Bhima menilai, dari sisi eksternal, penyebaran virus corona masih menjadi sentimen utama penggerak rupiah. “Kalau dari dalam negeri, laporan Bank Dunia memberikan sentimen negatif terhadap emiten BUMN,” ujar Bhima.

Loading...