Rupiah Betah di Level Rp13.900 Jelang Putusan The Fed

Rupiah - www.kaskus.co.idRupiah - www.kaskus.co.id

masih belum beranjak dari posisi Rp13.900 per dolar AS pada Rabu (13/6) ketika tengah menantikan putusan rapat kebijakan mengenai kenaikan acuan. Menurut data yang diambil dari XE Currency Converter, Garuda terpantau berada di level Rp13.952 per dolar AS pada pukul 15.45 WIB.

Dari pasar , indeks dolar AS menguat pada hari Rabu, serta mencapai level tertinggi dalam tiga minggu terhadap yen Jepang dan berdiri di atas euro, menjelang putusan rapat kebijakan yang dapat memberikan petunjuk tentang berapa banyak kenaikan suku bunga AS pada tahun ini. Mata uang Paman Sam terpantau naik 0,049 poin atau 0,05% ke level 93,867 pada pukul 10.06 WIB.

Seperti dilansir Reuters, The Fed akan menyimpulkan pertemuan kebijakan dua hari mereka pada hari Rabu waktu setempat atau Kamis (14/6) pagi WIB, yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya tahun ini. Fokus pasar adalah pada apakah akan menaikkan suku bunga sebanyak empat kali pada tahun 2018, setelah ekonomi terbesar di dunia telah berkembang dengan mantap.

“Ada pandangan bahwa gejolak pasar negara berkembang baru-baru ini dapat menahan The Fed untuk mempercepat laju kenaikan suku bunga mereka,” tutur kepala strategi valas di Mizuho Securities di Tokyo, Masafumi Yamamoto. “Indeks dolar AS akan memperoleh keuntungan jika The Fed benar-benar memberi pertanda untuk menaikkan suku bunga sebanyak empat kali sepanjang tahun ini.”

Selain The Fed, pasar juga mengamati rapat kebijakan European Central Bank (ECB) yang bakal digelar Kamis waktu setempat. Spekulasi investor bahwa ECB dapat memberi isyarat untuk memulai penghentian pembelian obligasi besar-besaran sempat mendorong euro ke level tertinggi tiga minggu terhadap dolar AS pada pekan lalu, meski tidak dapat mempertahankan kenaikan tersebut.

“Harapannya adalah ECB akan bersedia untuk mempercepat normalisasi kebijakan mereka,” sambung Yamamoto. “Namun, saya percaya harapan seperti itu berlebihan dan pertemuan itu bisa mengecewakan pasar yang mengharapkan retorika hawkish, yang akan menjelaskan kelemahan euro baru-baru ini.”

Loading...