Pantang Kendur, Rupiah Berjaya 0,83% di Akhir Pekan

Rupiah - katadata.co.idRupiah - katadata.co.id

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di zona hijau pada Jumat (27/3) sore, terbawa efek stimulus jumbo yang digelontorkan AS yang membuat gerak sedikit jinak. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.57 WIB, Garuda menguat 135 poin atau 0,83% ke level Rp16.170 per AS.

Kamis (26/3) waktu Indonesia, Senat AS menyetujui proposal anggaran sebesar 2 triliun dolar AS untuk meredam dampak negatif pandemi virus corona terhadap Negeri Paman Sam. Saat ini, publik menunggu respon House of Representative (DPR) AS, yang dijadwalkan akan memberikan persetujuan pada hari ini waktu setempat. Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, sudah mengisyaratkan RUU tersebut akan disetujui dan mendapatkan dukungan penuh.

“Stimulus moneter dan fiskal yang digelontorkan berbagai negara untuk meredam dampak pandemi virus corona berhasil mengangkat rupiah dan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan),” ujar Gubernur , Perry Warjiyo, dilansir CNN Indonesia. “Kebijakan stimulus ini mengurangi kepanikan di pasar, sehingga meredanya tekanan di berimplikasi dengan membaiknya sentimen di pasar Indonesia.”

Tidak hanya The Fed, stimulus juga diberikan European Central Bank (ECB) yang mengucurkan dana sebesar 750 miliar euro atau setara 821 miliar dolar AS untuk membeli surat utang hingga akhir tahun 2020. Sementara, di dalam negeri, Presiden Joko Widodo setidaknya sudah mengeluarkan paket stimulus dalam dua jilid, seperti Kartu Prakerja, bantuan Rp4 juta dalam empat bulan melalui BP Jamsostek, dan insentif untuk UMKM.

Ketika paket stimulus yang ramai-ramai digelontorkan seluruh dunia mengangkat mata uang berisiko, tidak demikian dengan dolar AS. Mata uang Paman Sam tersebut justru berada di jalur penurunan mingguan terbesar dalam lebih dari satu dekade. Dolar AS terpantau melemah 400 poin atau 0,40% ke level 98,952 pada pukul 13.09 WIB.

Dolar AS tertekan setelah data terbaru menunjukkan klaim pengangguran mengalami lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, membuat investor mengantisipasi bahwa pemerintah Amerika Serikat dan Federal Reserve akan mengambil stimulus baru untuk merangsang perekonomian. Klaim pengangguran mencetak rekor lebih dari 3 juta sepanjang pekan lalu.

Loading...