Rupiah Berhasil Rebound di Tengah Menguatnya Yield US Treasury

Rupiah - beritajatim.comRupiah - beritajatim.com

Jakarta dibuka 37 poin atau 0,27 persen ke level Rp 13.578 per dolar AS pada awal pagi hari ini, Rabu (21/2). Kemarin, Selasa (20/2), berakhir terdepresiasi 0,41 persen atau 55 poin ke posisi Rp 13.615 per dolar AS usai diperdagangkan pada kisaran angka Rp 13.559 hingga Rp 13.624 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur gerak the terhadap 6 mata uang utama terpantau menguat 0,58 persen menjadi 89,717 di akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB lantaran para pelaku tengah menanti lelang surat utang pemerintah Amerika Serikat dalam jumlah besar pekan ini.

Karena belum ada ekonomi terbaru yang dilaporkan, perhatian pasar pun terpusat pada pasokan utang baru sebesar USD 250 miliar oleh Departemen Keuangan AS minggu ini, yang berlangsung sejak Selasa 20 Februari 2018 waktu setempat saat USD 179 miliar surat utang pemerintah berjangka waktu 2 tahun dilelang.

Menurut sejumlah analis, lelang surat utang tersebut akan dijadikan tolak ukur utama bagi preferensi internasional terkait aset-aset Amerika Serikat. Dolar AS sendiri diketahui sudah mengalami pasang surut sejak awal tahun 2017 lalu lantaran para mengkhawatirkan rencana Presiden AS Donald Trump sehubungan dengan pengeluaran pemerintah yang besar akan memperbesar defisit.

Menurut ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, dolar AS melaju ke zona hijau lantaran kenaikan imbal hasil surat utang AS dari posisi pekan lalu di angka 2,88 persen menjadi 2,92 persen. “Kenaikan yield US Treasury ini mendorong penguatan dollar AS di hadapan mata uang utama dunia, dan berimbas ke mata uang Asia,” ucap Josua, seperti dilansir Kontan.

The Greenback juga menguat lantaran tingginya ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga AS pada bulan Maret 2018 depan sehingga berhasil mendorong US Treasury yield untuk turut menguat. Namun pada perdagangan hari ini Josua memprediksi rupiah akan melemah karena dolar AS masih menguat. “Data dalam negeri juga tidak ada yang signifikan makanya pelemahan rupiah besok masih lebih dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga di Maret 2018 dan jelang rapat ,” pungkas Josua.

Loading...