Rupiah Berhasil Rebound 4 Poin ke Level Rp 15.188/USD di Awal Dagang

Rupiah - www.medanbisnisdaily.comRupiah - www.medanbisnisdaily.com

Jakarta dibuka menguat tipis sebesar 4 poin atau 0,03 persen menjadi Rp 15.188 di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (24/10). Kemarin, Selasa (23/10), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 5 poin atau 0,03 persen ke posisi Rp 15.192 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan melemah tetapi berhasil memulihkan beberapa kerugian awal lantaran aksi jual di saham Amerika Serikat mulai berkurang.

Indeks Dow Jones Industrial Average, S&P 500 dan Komposit Nasdaq mengalami penurunan secara signifikan di pembukaan perdagangan, akibat laba yang kurang cerah dari pemimpin Caterpillar Inc dan 3M Co. Tiga indeks berhasil pulih dari sebagian kerugian tersebut di pertengahan sore, namun tetap lebih rendah dari penutupan perdagangan Senin. “Pasar saham menjadi perhatian semua orang. Dolar/yen bergerak hampir tick-to-tick dengan saham,” ujar partner di FX Analytics David Gilmore seperti dilansir Antara.

Caterpillar anjlok 5,8 persen usai peralatan berat tersebut mempertahankan prediksi labanya untuk 2018, usai menaikkannya pada dua kuartal sebelumnya. Sedangkan 3M anjlok 5,2 persen setelah memangkas prospek laba setahun penuh lantaran ‘headwinds’ mata uang. Hal ini kembali memunculkan kekhawatiran akan dampak peningkatan pinjaman, upah, dan tarif atas laba perusahaan-perusahaan.

Di sisi lain, rupiah kemarin sempat melemah usai Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan acuannya. Dolar sendiri menguat karena pembicaraan Brexit yang masih deadlock dan Euro yang tertekan setelah downgrade rating Italia.

Menurut Ekonom Bank Permata Joshua Pardede, pada perdagangan hari ini rupiah akan menguat karena ditopang data ekonomi AS yang masih belum ada yang signifikan. “Menurut saya masih terkena dari yang di Eropa ini terkait dengan Brexit dan perkembangan ekonomi Itali khususnya, yang mana credit rating yang turun yang cukup membayangi euro,” ujar Josua, seperti dilansir Kontan.

Lebih lanjut Josua menjelaskan jika pasar sudah memprediksi jika BI akan menahan suku bunga acuannya pada bulan Oktober ini. Akan tetapi BI kemungkinan akan kembali menaikkan suku bunga pada rapat dewan gubernur (RDG) November 2018 depan. “Saya pikir momentum yang tepat adalah misalkan tekanan rupiah masih berlanjut kemungkinan BI menaikkan suku bunga. Jadi mengantisipasi juga merespons data current account dan kenaikan suku bunga The Fed di Desember,” tandasnya.

Loading...