Imbas Aksi Jual, Rupiah Berbalik Melemah di Awal Pekan

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (16/9) pagi - detik.com

JAKARTA – Setelah menguat dalam beberapa sesi terakhir, akhirnya harus rela merosot ke zona merah pada Senin (16/9) pagi. Menurut paparan Bloomberg Index, mata uang Garuda mengawali dengan 29 poin atau 0,21% ke level Rp13.996 per AS. Sebelumnya, spot sempat ditutup menguat 27 poin atau 0,19% di posisi Rp13.967 per AS pada akhir pekan (13/9) kemarin.

“Sepanjang pekan lalu, rupiah menguat lumayan tajam terhadap , nyaris mencapai 1%. Oleh karena itu, rupiah memang agak rentan terkena ambil untung (profit taking),” ulas CNBC . “Ketika ramai-ramai mencairkan keuntungan, maka rupiah terkena tekanan jual dan nilainya berisiko melemah. Risiko yang bisa terjadi kapan saja, bukan tidak mungkin hari ini.”

Masih menurut CNBC Indonesia, tanda-tanda depresiasi rupiah sudah terlihat di Non-Deliverable Market (NDF). NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. NDF seringkali memengaruhi psikologis pembentukan di spot, dan karenanya kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh spot.

Meski demikian, sejumlah ekonom dalam negeri masih optimistis rupiah mampu melanjutkan penguatan pada awal pekan ini. Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menuturkan bahwa data ekonomi China yang rilis hari ini dapat menjadi penopang rupiah. Hari ini, Negeri Panda memang akan merilis data tingkat pengangguran, pertumbuhan penjualan ritel, dan produksi industri. “Data tersebut diproyeksi bagus sehingga bisa menopang rupiah,” kata Josua.

Berbanding terbalik dengan analis Maxco Futures, Suluh Adil Wicaksono, yang menilai rupiah rentan koreksi karena pekan lalu sudah menguat cukup signifikan. Belum lagi, harga minyak bakal naik akibat serangan di kilang minyak Saudi Aramco. Suluh pun memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp13.900 hingga Rp14.200 per dollar AS pada hari ini.

Loading...