Rupiah Berbalik Melemah 9 Poin Jelang Putusan RDG BI

Rupiah - www.republika.co.idRupiah - www.republika.co.id

Rupiah harus berbalik pada akhir Kamis (19/4) ini ketika pasar dalam negeri menantikan hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) . Menurut Index pukul 15.59 WIB, Garuda menutup dengan penurunan sebesar 9 poin atau 0,07% ke level Rp13.785 per AS.

Sebelumnya, rupiah sudah berakhir melemah 10 poin atau 0,07% di posisi Rp13.776 per dolar AS pada perdagangan Rabu (18/4) kemarin. Mata uang NKRI sempat rebound tipis 1 poin atau 0,01% ke level Rp13.775 per dolar ketika membuka pasar pagi tadi. Sayangnya, setelah itu, spot kembali terjungkal ke zona merah hingga tutup transaksi.

Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang menurut rencana bakal diumumkan Kamis sore. Sejumlah ekonom memprediksi bahwa akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate pada posisi 4,25%, yang diklaim dapat menjaga defisit transaksi berjalan di level yang sehat.

Sementara, dari pasar , indeks dolar AS terpantau bergerak stabil pada hari ini, ditopang kenaikan yield Treasury AS yang kembali mengangkat daya tarik aset berisiko. Mata uang Paman Sam tersebut hanya terdepresiasi 0,009 poin atau 0,01% ke posisi 89,614 pada pukul 11.34 WIB, setelah sebelumnya berakhir menguat 0,107 poin atau 0,12% di level 89,623.

Seperti diberitakan Reuters, gerak greenback sebenarnya cukup terbatas, mengingat jangkauan kenaikan oleh yield Treasury tenor 10 tahun, yang menguat lebih dari 5 basis poin semalam, sekaligus lonjakan harian terbesar sejak 2 Maret lalu. Meski demikian, masih terdapat kekhawatiran mengenai tensi perdagangan antara AS dan China.

“Dolar AS, terutama terhadap yen, telah mulai membangun kembali korelasi dengan perbedaan yield yang melebar bulan ini,” terang ahli strategi senior FX di IG Securities di Tokyo, Junichi Ishikawa. “Sementara, selisih antara yield AS dan orang-orang di Jepang dan zona Eropa terus melebar, greenback tidak dapat mengambil keuntungan penuh karena ‘risiko Trump’ yang berkepanjangan.”

Loading...