Senin Pagi, Rupiah Berbalik Drop Meski NFP AS Anjlok

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (6/4) pagi - www.cnbcindonesia.com

JAKARTA – Rupiah ternyata harus berbalik ke zona merah pada perdagangan Senin (6/4) pagi meski data nonfarm payroll terbaru dilaporkan mengalami penurunan. Menurut catatan Index, Garuda melemah 70 poin atau 0,43% ke level Rp16.500 per pada pukul 09.10 WIB. Sebelumnya, spot sempat ditutup menguat 65 poin atau 0,39% di posisi Rp16.430 per pada akhir pekan (3/4) kemarin.

Pada Jumat waktu setempat, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa data nonfarm payrolls negara tersebut sepanjang Maret 2020 turun menjadi 701.000, sekaligus penurunan pertama sejak September 2010 dan mendekati puncak krisis keuangan Mei 2009 silam yang sebesar 800.000. Penurunan menunjukkan tekanan akibat , sebagian besar pada industri perhotelan yang terpaksa ditutup.

Tidak hanya itu, angka pengangguran Negeri Paman Sam pun dilaporkan naik dari 3,5% menjadi 4,4%, atau level tertinggi sejak Agustus 2017 karena para pengusaha mulai memotong gaji praktik jarak sosial yang menutup sebagian besar ekonomi AS. Sebelum terkena wabah COVID-19, tingkat pengangguran AS telah menjadi yang terendah dalam lebih dari 50 tahun.

Meski demikian, data-data tersebut tidak membuat rupiah bergerak positif. Pasalnya, investor masih tetap memburu dolar AS karena dinilai sebagai aset yang aman di tengah kondisi wabah yang belum jelas kapan berakhir. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,135 poin atau 0,13% ke level 100,711 pada pukul 09.14 WIB.

masih mencari aset investasi aman, yakni dolar AS, seiring dengan pandemi yang masih berlangsung dan mengancam pertumbuhan ekonomi seluruh negara,” tutur Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Bisnis. “Rupiah berpotensi masih akan melemah di level Rp16.400 hingga Rp16.600 per dolar AS.”

Mengenai penguatan rupiah pada pekan lalu, menurut Ibrahim, itu dikarenakan data internal yang positif sehingga berhasil menahan sentimen buru dolar AS yang cenderung dilakukan investor. Dengan rendahnya suku bunga di berbagai bank sentral , terutama AS, Eropa, dan Asia, menjadi daya tarik untuk pasar dalam negeri.

Loading...