Selasa Pagi, Rupiah Berbalik Arah Melemah

Rupiah - www.validnews.idRupiah - www.validnews.id

JAKARTA – Rupiah harus berbalik arah ke teritori merah pada Selasa (2/2) pagi. Menurut catatan Bloomberg Index pukul 09.08 WIB, mata uang Garuda terpantau melemah 12 poin atau 0,09% ke level Rp14.034,5 per AS. Sebelumnya, spot mampu ditutup menguat 7,5 poin atau 0,05% di posisi Rp14.022,5 per AS pada Senin (1/2) kemarin.

“Penguatan mata uang rupiah kemarin salah satunya didukung beberapa data yang baru saja dirilis, termasuk manufaktur yang naik secara mengejutkan pada Januari 2021, meningkatkan keyakinan asing,” tutur ekonom CORE , Yusuf Rendy Manilet, dikutip dari . “Kenaikan tersebut dinilai mengimbangi kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dimulai sejak Januari lalu.”

Seperti diketahui, data dari IHS Markit menyebutkan, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia periode Januari 2021 tercatat naik 52,2 atau lebih tinggi dari periode bulan yang sebesar 51,3. Menurut IHS Markit, peningkatan terbaru di sektor kesehatan merupakan yang paling cepat selama enam setengah tahun, dan yang paling besar sejak survei pada April 2011.

Untuk hari ini, Yusuf memprediksi kurs rupiah akan kembali menguat, yang ditopang sentimen data dari dalam negeri. Mata uang domestik juga akan didukung kemajuan vaksinasi setelah AstraZeneca menyetujui penambahan jumlah vaksin di Eropa, setelah peningkatan kasus virus corona. “Rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.000 hingga Rp14.015 per dolar AS,” tambah Yusuf.

Sementara itu, Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo, seperti dilansir dari Kontan, mengatakan bahwa pergerakan rupiah akan cenderung stabil pada hari ini karena sepi data ekonomi. Dengan data ekonomi masih minim hingga Rabu (3/2) esok, kemungkinan besar akan wait and see, menunggu perkembangan, khususnya mengenai dampak pandemi COVID-19.

Setali tiga uang, ekonom Bank Mandiri, Reny Eka Puteri, juga melihat rupiah masih akan diperdagangkan stabil pada perdagangan hari ini. Ia pun menilai pelaku pasar masih akan wait and see terhadap kemungkinan baru di pasar. “Dari dalam negeri, inflasi tercatat masih terkendali sehingga tidak akan banyak memberi pergerakan terhadap rupiah,” ujar Reny.

Loading...