Rupiah Berakhir Stagnan di Tengah Penurunan Dolar AS

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (21/6) pagi - www.vibiznews.com

Jakarta – Pada penutupan perdagangan sore hari ini, Jumat (27/8), rupiah ternyata berakhir stagnan di angka Rp14.417,5 jika dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Sedangkan pagi tadi, rupiah terpantau melemah 0,05 persen atau 7,5 poin ke Rp14.425 per USD. Sementara itu, indeks dolar yang mengukur gerak the Greenback terhadap enam mata uang utama dilaporkan melemah 0,08 persen menjadi 92,99.

Menurut Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim, setidaknya terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah. Misalnya saja pertumbuhan ekonomi yang akan mendekati batas atas target, yaitu 4,5 persen. Akan tetapi, dengan catatan pemulihan ekonomi dapat berjalan mulai September sampai akhir tahun 2021 dengan menjaga kasus Covid-19.

“Walaupun pemerintah memproyeksi ekonomi pada tahun 2021 memang mengalami koreksi ke rentang 3,7 persen sampai 4,5 persen karena disrupsi Covid-19 varian Delta, terutama pada triwulan III-2021,” ujar Ibrahim, seperti dilansir dari Bisnis.

Di samping itu, dari faktor eksternal kata Ibrahim juga ada potensi kenaikan dolar begitu pengurangan stimulus bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve dimulai. Ia berpendapat, The Fed melihat penurunan stimulus telah membantu mendorong indeks dolar AS melonjak ke level tertinggi 93,734.

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra menambahkan bahwa pasar tampaknya berkonsolidasi mengantisipasi kemungkinan Powell akan mengindikasikan tapering mulai akhir tahun 2021 ini. Gubernur The Fed Jerome Powell sendiri dijadwalkan akan mengungkapkan pidatonya mengenai kebijakan moneter ke depan di Jackson Hole malam ini. Kebijakan tapering berupa pengurangan pembelian aset atau obligasi dinilai bakal mengurangi likuiditas dolar AS di pasar, sehingga dapat mendorong penguatan dolar AS.

“Tapering ini juga nantinya akan berlanjut ke kebijakan kenaikan bunga yang tentunya akan memicu para pelaku pasar untuk mengkalkulasi ulang risiko dan posisinya di pasar keuangan,” jelas Ariston pada Antara.

Di sisi lain, tiga pejabat The Fed pada Kamis juga mendesak pihak bank sentral untuk mengumumkan rencana pengurangan pembelian aset segera setelah September 2021, walaupun ada risiko dari varian Delta Covid-19. “Berdasarkan semua yang saya lihat, saya tidak melihat apa pun pada titik ini yang akan menyebabkan saya mengubah pandangan saya secara material,” ungkap Presiden Federal Reserve Bank Dallas Robert Kaplan.

“Ini akan terus menjadi pandangan saya bahwa ketika kita sampai ke pertemuan September, kita akan dilayani dengan baik untuk mengumumkan rencana menyesuaikan pembelian dan mulai melaksanakan rencana itu pada bulan Oktober atau segera sesudahnya,” sambungnya.

Loading...