Relasi AS-China Memburuk, Rupiah Berakhir Negatif

Rupiah - www.republika.co.idRupiah - www.republika.co.id

JAKARTA – tidak sanggup mengatrol posisi ke teritori hijau pada perdagangan Rabu (9/10) sore, ketika aset risiko cenderung dihindari investor akibat harapan mengenai terobosan negosiasi AS dan China semakin berkurang. Menurut data Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda melemah 11 poin atau 0,08% ke level Rp14.173 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.182 per dolar AS, terdepresiasi 12 poin atau 0,08% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.170 per dolar AS. Pelemahan ini membuat rupiah terus turun selama tiga hari beruntun di kurs tengah BI. Namun, dalam periode tersebut, penurunan rupiah tidak terlalu signifikan, hanya 0,33%.

Dari , indeks dolar AS juga terpantau bergerak lebih rendah pada hari Rabu, karena harapan untuk terobosan dalam pembicaraan perdagangan AS-China semakin berkurang, membuat investor cenderung menghindari aset berisiko. Mata uang Paman Sam melemah 0,148 poin atau 0,15% ke level 98,985 pada pukul 14.51 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, menghapus kenaikan yang terjadi pada sesi sebelumnya, ketika pengenaan pembatasan visa AS terhadap pejabat China, dan daftar hitam -perusahaan Negeri Panda, atas perlakuan terhadap minoritas , telah mengacaukan diskusi perdagangan. Sebelumnya, penghindaran aset risiko telah mendorong dolar AS semalam, yang dipandang sebagai safe haven karena posisinya sebagai mata uang cadangan global.

“Larangan visa perjalanan AS dan daftar hitam perusahaan China yang terkait dengan masalah hak asasi manusia tidak membantu mempertahankan latar belakang positif untuk negosiasi perdagangan ini,” kata kepala ekonom ING untuk -Pasifik, Rob Carnell. “Mereka juga tampaknya akan memprovokasi beberapa pembalasan dari China, hanya sehari sebelum Wakil Perdana Menteri China, Liu He, dijadwalkan tiba di Washington.”

Seorang diplomat China mengatakan kepada Reuters bahwa pihaknya menginginkan kesepakatan. Namun, prospek untuk adanya progres tampak redup karena meningkatnya ketegangan. Selain pembatasan visa dan daftar hitam perusahaan, administrasi Presiden Donald Trump juga melemparkan rencana untuk membatasi aliran ke Negeri Tirai Bambu.

Loading...