Dolar Tertekan di Asia, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah menguatRupiah menguat pada transaksi Senin (4/11) sore - bisnis.com

JAKARTA – Rupiah mampu mempertahankan posisi di teritori hijau pada transaksi Senin (4/11) sore, ketika greenback cenderung tertekan di menyusul optimisme kesepakatan antara AS dan . Menurut laporan Index pada pukul 15.00 WIB, Garuda 25 poin atau 0,18% ke level Rp14.014 per AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan berada di posisi Rp14.002 per dolar AS, melonjak 64 poin atau 0,45% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.066 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mata uang Asia kompak mengalahkan greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,45% menghampiri won Korea Selatan.

Diberitakan Bloomberg, nilai tukar mata uang Benua Kuning mampu bergerak lebih tinggi di tengah optimisme bahwa pemerintah AS dan China dikabarkan selangkah lebih dekat menuju kesepakatan interim. Menteri Perdagangan AS, Wilbur Ross, bahkan optimis bahwa negaranya akan mencapai kesepakatan ‘fase 1’ dengan Negeri Panda pada bulan ini.

“Optimisme yang berlaku atas kesepakatan perdagangan ‘fase 1’ telah mengangkat nilai tukar mata uang Asia secara keseluruhan,” tutur kepala strategi valas Asia di Mizuho Bank, Hong Kong, Ken Cheung. “Kinerja dolar AS yang cenderung lesu juga membuat para pelaku nyaman untuk membangun long position untuk kurs Asia.”

Dari pasar global, indeks dolar AS memang cenderung mengalami koreksi, terutama di pasar Asia, pada hari Senin ketika liburan di Tokyo membuat aktivitas perdagangan tampak sepi dan investor menantikan pidato resmi dari Gubernur European Central Bank (ECB) yang baru. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,019 poin atau 0,02% ke level 97,220 pada pukul 13.00 WIB.

Dilansir Reuters, dolar AS telah berada di bawah tekanan sejak Federal Reserve menurunkan pada Rabu (30/10) lalu dan membiarkan pintu terbuka untuk lebih banyak pelonggaran jika diperlukan. Mata uang mencoba rally pada akhir pekan (1/11) ketika laporan nonfarm payrolls AS mengalahkan ekspektasi, tetapi langsung dihentikan oleh survei manufaktur yang mengecewakan.

“Tingkat kebijakan global bertemu sekali lagi di bagian bawah. Itu mungkin berarti lebih sedikit volatilitas di antara mata uang karena perbedaan suku bunga menyusut dan kemungkinan setiap perubahan dalam kebijakan berkurang,” ujar seorang analis di ACLS Global, Marshall Gittler. “Ini juga kemungkinan berarti dolar AS, Kanada, Australia, dan New Zealand yang lebih lemah karena ini adalah mata uang dengan tingkat suku bunga tertinggi saat ini.”

Loading...