Rupiah Berakhir Menguat di Tengah Sentimen Kenaikan Fed Fund Rate

bi-bankindonesiaBank Indonesia [foto:Nikkei]

Di tengah sentimen kenaikan suku bunga yang kian berhembus kencang, rupiah ternyata mampu lepas dari tekanan dan bergerak menguat. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, Garuda menutup awal pekan (21/11) ini dengan naik 22 poin atau 0,16% ke level Rp13.406 per dolar AS.

Rupiah sebenarnya mengawali sesi dagang hari ini dengan melemah 8 poin atau 0,06% ke posisi Rp13.436 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali tipis 3 poin atau 0,02% ke level Rp13.431 per dolar AS. Jelang akhir dagang atau pukul 15.45 WIB, spot masih tertahan di zona merah usai turun 2 poin atau 0,01% ke Rp13.430 per dolar AS, sebelum akhirnya mampu bangkit di detik-detik terakhir.

Sebelumnya, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, menilai bahwa rupiah masih berpeluang melemah pada perdagangan hari ini seiring sentimen penguatan dolar AS dan kenaikan suku bunga The Fed yang kian berhembus kencang. “Namun, pelemahan rupiah bisa ditekan dengan kehadiran Bank Indonesia di valuta asing,” kata Rangga.

Di sisi lain, pelemahan rupiah tidak perlu membuat investor di Indonesia khawatir, karena semua negara juga mengalami hal yang sama. “Kurs negara berkembang lain, seperti dan , juga melemah, bukan saja karena Trump, tetapi lebih banyak tentang prospek perdagangan dunia,” ujar VP of Corporate Development & Market Research ForexTime Ltd. (FXTM), Jameel Ahmad.

“Selain itu, prospek kenaikan suku bunga The Fed juga berpotensi memicu aliran dana keluar,” sambung Jameel. “Meski demikian, aksi beralihnya dana itu hanya akan bersifat sementara karena Indonesia juga pernah mengalami capital outflow yang cukup besar pada semester II 2015 lalu.”

Berbeda dengan rupiah, sejumlah mata uang terpantau melemah versus dolar AS. Hingga Senin siang, peso anjlok 0,46%, sedangkan turun 0,16%, dan dolar Singapura terdepresiasi 0,12%. Hanya baht Thailand yang menguat 0,03% melawan the greenback.

Loading...