Rupiah Berakhir Loyo Jelang Putusan Suku Bunga BI

Menjelang keputusan Rapat Dewan Gubernur mengenai besaran tingkat acuan, harus menutup Kamis (20/7) ini di zona merah. Menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, Garuda mengakhiri dengan pelemahan sebesar 12 poin atau 0,09% ke level Rp13.333 per .

Rupiah sebenarnya mampu mengawali perdagangan di zona hijau dengan menguat tipis 3 poin atau 0,02% ke posisi Rp13.318 per dolar . Sayangnya, ketika jeda siang, mata uang domestik berbalik melemah 4 poin atau 0,03% ke level Rp13.325 per dolar . Jelang penutupan atau pukul 15.30 WIB, spot masih tertahan di zona merah setelah turun 14 poin atau 0,11% ke posisi Rp13.335 per dolar .

Pasar dalam negeri saat ini sedang menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan sore ini. Para ekonom memprediksi akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level 4,75% melihat perkembangan yang ada di dalam negeri serta faktor global, terutama kondisi moneter di AS.

“Mengingat keseimbangan dalam perekonomian dalam negeri, seperti yang terkendali serta sisi eksternal yang tercermin pada neraca perdagangan yang masih surplus, tidak ada alasan yang kuat untuk mengubah suku bunga di level yang ada sekarang,” kata Ekonom Bahana Sekuritas, Fakhrul Fulvian. “BI kemungkinan akan lebih memantau transmisi kebijakan moneter yang ada terhadap sektor keuangan.”

Dari pasar global, nilai tukar yen Jepang melemah terhadap dolar AS setelah Bank of Japan menyatakan memundurkan target pencapaian inflasi sebesar 2%. Pelemahan mata uang Negeri Matahari Terbit ini sontak diikuti pelemahan mata uang di Benua Asia lainnya, seperti won Korea Selatan, rupee India, renminbi China, dan juga rupiah.

“Pelemahan rupiah sudah terjadi sejak perdagangan kemarin seiring dengan pelemahan nilai tukar mata uang lainnya, selain kejenuhan pasar,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Tensi politik dalam negeri yang memanas juga menghalangi ruang penguatan mata uang Garuda, meski pelemahan rupiah hanya bersifat temporer.”

Sementara itu, di luar Benua Asia, mata uang euro justru perkasa versus dolar AS karena adanya harapan bahwa Bank Sentral Eropa akan menghentikan program pelonggaran moneter. “Euro melonjak karena dengan penghentian kebijakan pelonggaran kebijakan moneter tersebut, menjadi tanda perekonomian Eropa telah mulai pulih,” ujar analis pasar uang ThinkMarket UK, Naeem Aslam.

Loading...