Rupiah Berakhir Lesu Jelang Putusan Suku Bunga BI

tidak mampu keluar dari zona merah sepanjang perdagangan Kamis (15/6) ini di tengah penantian dalam negeri mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur . Menurut Index pukul 15.58 WIB, Garuda harus memungkasi dengan pelemahan sebesar 9 poin atau 0,07% ke level Rp13.286 per dolar AS.

Tren negatif rupiah sudah berlangsung sejak awal dagang dengan dibuka 12 poin atau 0,09% ke posisi Rp13.289 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali terdepresiasi 4 poin atau 0,03% ke level Rp13.281 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.42 WIB, spot masih tertahan di zona merah setelah melemah 9 poin atau 0,07% ke posisi Rp13.286 per dolar AS.

Dari pasar global, indeks dolar AS mencoba bangkit setelah , seperti yang telah diprediksi, menaikkan suku bunga acuannya. Setelah dibuka dengan pelemahan sebesar 0,050 poin atau 0,05% ke level 96,889, penurunan mata uang Paman Sam menipis menjadi 0,009 poin atau 0,01% ke posisi 96,930 pada pukul 09.59 WIB.

Seperti diberitakan sebelumnya, The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya pada hari Rabu (14/6) waktu setempat sebesar 25 basis poin ke kisaran target 1%-1,25%. Bank Sentral AS tersebut juga memproyeksikan satu kali kenaikan lanjutan untuk tahun ini dan tampak mengesampingkan sejumlah data ekonomi yang menunjukkan hasil beragam baru-baru ini.

“Sepertinya The Fed tetap berpegang pada cerita mereka dan pasar tetap sangat skeptis bahwa Fed akan dapat mengambil tindakan hanya berdasarkan data terbaru,” jelas Head of U.S. Short Rates Strategy di Bank of America Merrill Lynch, Mark Cabana. “Saya akan berpikir bahwa di satu titik, pasar akan memperhitungkan risiko yang lebih besar bahwa The Fed mungkin bergerak terlalu cepat.”

Sementara, dari dalam negeri, pasar saat ini sedang menantikan hasil dari Rapat Dewan Gubernur Bank yang diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuan BI-7 Days Reverse Repo Rate Juni di level 4,75% meski The Fed mengerek suku bunga acuan mereka. Pasalnya, kenaikan suku bunga AS pada bulan ini telah diprediksi oleh pelaku pasar global.

Loading...