Rupiah Bakal Sedikit Tertekan Usai Harga Minyak Kembali Anjlok

Laju nilai tukar pada Selasa (5/4) diramal bakal kembali mengalami tekanan. Data ketenagakerjaan (AS) yang positif serta kembali anjloknya minyak dunia akan menjadi sentimen negatif bagi Garuda.

Menurut laporan Bloomberg Index, rupiah dibuka menguat 67 poin atau 0,51% ke level Rp13.123 per AS. Namun, mata uang Garuda berbalik 28 poin atau 0,21% ke Rp13.218 per pada pukul 08.19 WIB. Sementara itu, indeks terpantau melemah tipis 0,01% ke 94,5.

“Jika melihat harga minyak yang kembali turun hampir tiga persen semalam, rupiah berpeluang sedikit tertekan hari ini,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Meski pelemahan indeks dolar AS masih menopang rupiah, namun anjloknya harga minyak mulai memberikan tekanan bagi mata uang Garuda.”

Ditambahkan Rangga, harga minyak terus melanjutkan pelemahannya dengan meredupnya harapan pemangkasan produksi oleh negara-negara OPEC. “Hal ini cukup memberikan tekanan terhadap kurs negara berkembang meski dolar AS juga masih melemah,” sambungnya.

Sementara itu, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, Faisyal, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah salah satunya imbas data ketenagakerjaan AS yang positif. “Ini bisa mengembalikan kepercayaan pasar bahwa kenaikan The Fed akan lebih cepat terealisasi,” jelasnya.

“Pergerakan rupiah selanjutnya menunggu rilis FOMC minutes,” lanjut Faisyal. “Hari ini, rupiah kemungkinan bakal bergerak di rentang Rp13.100 hingga Rp13.220 per dolar AS.”

Pada perdagangan Senin (4/4), rupiah ditutup melemah 23 poin atau 0.17% ke Rp13.190 per dolar AS. Pelemahan rupiah berbanding terbalik dengan kondisi pembukaan yang menguat 9 poin atau 0,07% ke Rp13.158 per dolar AS.

Loading...