Selasa Sore, Keperkasaan Dolar Bikin Rupiah Anjlok

Rupiah - blog.talenta.coRupiah - blog.talenta.co

JAKARTA – praktis tidak memiliki kekuatan untuk beranjak naik ke zona hijau pada Selasa (3/9) seiring dengan pergerakan AS yang relatif kuat di tengah ketidakpastian hubungan AS dan China. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 15.54 WIB, Garuda terpantau melemah 34 poin atau 0,25% ke level Rp14.228 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi Bank menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.217 per dolar AS, terdepresiasi 27 poin atau 0,20% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.190 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang juga tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,86% menghampiri rupee India.

Dari global, indeks dolar AS memang relatif bergerak lebih tinggi pada hari Selasa, ketika ketidakpastian atas perencanaan pembicaraan dagang antara AS dan China membuat memburu greenback. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,322 poin atau 0,33% ke level 99,238 pada pukul 15.45 WIB, setelah kemarin berakhir stagnan.

Seperti diberitakan Bloomberg, indeks dolar AS sempat melonjak ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir karena ketidakpastian atas perencanaan pembicaraan dagang antara AS dan China mendukung permintaan greenback. Para pejabat China dan AS sendiri sedang berupaya mencari jadwal pertemuan yang direncanakan bulan ini setelah tarif baru diterapkan pada awal September.

“Perdagangan aset save haven tentu saja merupakan salah satu aspek dari kekuatan dolar AS baru-baru ini,” ujar direktur dan salah satu pendiri Xchainge, platform teknologi keuangan di Sydney, Nick Twidale. “Dengan ketidakpastian yang terus-menerus di dagang, saya memperkirakan tren ini akan tetap utuh hingga akhir tahun.”

China telah mengajukan pengaduan terhadap AS di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas bea masuk AS, membatalkan tindakan tarif terbaru karena melanggar konsensus yang dicapai oleh para pemimpin China dan AS dalam pertemuan di Osaka. Meskipun Presiden AS, Donald Trump, mengatakan kedua belah pihak masih akan bertemu untuk pembicaraan, tanda bahwa ketegangan mereda belum tampak.

“Investor saat ini sedang menunggu survei manufaktur AS oleh Institute for Supply Management (ISM) untuk beberapa panduan ke depan tentang kondisi ekonomi AS,” papar analis Phillip Futures, Benjamin Lu. “Hasil ISM yang lebih baik dari yang diharapkan dapat memberikan beberapa kelemahan pada emas secara intraday.”

Loading...