Rudal Korut Tekan Dolar, Rupiah Rebound di Akhir Pekan

Aksi Korea Utara yang kembali meluncurkan rudal membuat gerak indeks dolar AS berbalik arah ke zona merah dan mampu dimanfaatkan oleh untuk bangkit ke teritori . Menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, NKRI memungkasi transaksi akhir pekan (15/9) ini dengan penguatan sebesar 11 poin atau 0,08% ke level Rp13.240 per dolar AS.

Sebelumnya, pada Kamis (14/9) kemarin, rupiah harus ditutup anjlok 50 poin atau 0,38% ke posisi Rp13.251 per dolar AS. Kemudian, pagi tadi mata uang Garuda masih belum lepas dari zona merah dengan dibuka turun 8 poin atau 0,06% ke level Rp13.259 per dolar AS. Lalu, sepanjang hari ini, spot bergerak di kisaran Rp13.227 hingga Rp13.270 per dolar AS.

Dari pasar , pergerakan indeks dolar AS cenderung negatif karena tertekan kabar peluncuran rudal oleh Korea Utara, meski data Paman Sam di bulan Agustus 2017 menunjukkan hasil yang lebih baik dari prediksi. Mata uang terpantau melemah 0,046 poin atau 0,05% ke level 92,078 pada pukul 09.42 WIB, setelah sebelumnya berakhir di level 92,124 pada transaksi kemarin.

Departemen Tenaga Kerja AS kemarin mengumumkan indeks konsumen (IHK) Paman Sam pada bulan Agustus 2017 meningkat 0,4% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month). Angka ini lebih tinggi dari perkiraan pasar yang sebesar 0,3% dan angka bulan Juli 2017 yang hanya 0,1%. Sementara, dibandingkan bulan yang sama tahun 2016, IHK naik 1,9%.

Kenaikan IHK inti tersebut mengakhiri penurunan lima bulan berturut-turut sebelumnya. Perbaikan angka inflasi ini juga dapat membuat Federal Reserve menaikkan acuan pada bulan Desember mendatang. “Angka inflasi ini, meski mungkin belum cukup tinggi, semestinya cukup mempertahankan harapan kenaikan The Fed di bulan Desember,” kata kepala analis pasar di Commonwealth Foreign Exchange, Omer Esiner.

Namun, kenaikan angka inflasi tersebut tidak mampu mengangkat pergerakan indeks dolar AS, menyusul kabar peluncuran rudal terbaru oleh Korea Utara ke Samudra Pasifik. Berita yang berpotensi memicu ketegangan geopolitik ini pun lantas membuat yen, sebagai aset safe haven, diuntungkan dan mengalami kenaikan sebesar 0,12 poin terhadap greenback.

“Pasar telah memperkirakan potensi Korea Utara membalas sanksi terakhir dari Dewan Keamanan PBB yang diberlakukan kepada Pyongyang,” jelas pakar strategi mata uang untuk Brown Brothers Harriman di Tokyo, Masashi Murata. “Namun, dolar AS tidak mungkin mengalami banyak penurunan terhadap yen, terutama setelah data inflasi konsumen Paman Sam memperkuat harapan kenaikan suku bunga The Fed.”

Loading...