Riwayat Pembom Manchester Terkuak, Kebijakan Pengungsi di Eropa Diserang

Bom di Manchester - www.minutouno.comBom di Manchester - www.minutouno.com

MANCHESTER – Pada Mei 2017 lalu, insiden bom bunuh diri mengguncang Kota Manchester, Inggris, yang dilakukan oleh Salman Abedi, dan diklaim sebagai serangan paling mematikan di tersebut. Ironisnya, Abedi ternyata pernah diselamatkan oleh Angkatan Laut Inggris dari pantai Libya dan membawanya ke Malta, sebelum akhirnya dibawa ke Tanah Britania pada Agustus 2014 lalu, sehingga memicu nada negatif pada kebijakan pengungsi di Eropa.

Dilansir Independent, Abedi, seorang negara Inggris yang lahir di Manchester, dikabarkan telah mengunjungi ibukota Libya, Tripoli, dengan adik laki-lakinya ketika kekerasan memburuk pada tahun 2014, yang mendorong Inggris menyarankan warganya untuk meninggalkan negara itu. Kapal perang HMS Enterprise kemudian dikirim untuk mengevakuasi Abedi dan lebih dari 200 warga negara Inggris lainnya setelah pertempuran antara milisi yang bersaing.

HMS Enterprise memiliki berbagai tujuan dan telah dikerahkan sebagai bagian dari misi di seluruh Eropa untuk menyelamatkan para pengungsi di Laut Mediterania, dengan lebih dari 17.000 pria, wanita, dan anak-anak telah tenggelam sejak 2014. Abedi diketahui hanya menaiki kapal itu sebagai bagian dari evakuasi warga Inggris yang diorganisir dari Tripoli, sesuai nama aslinya dan dengan bantuan dari Angkatan Perbatasan.

Sayangnya, pada Mei 2017 lalu, Abedi melakukan tindakan bom bunuh diri ketika perhelatan konser penyanyi Ariana Grande di Manchester Arena. Tujuh anak, termasuk di antara 22 korban, dilaporkan tewas, sementara ratusan orang lainnya dinyatakan terluka. Serangan ini diklaim sebagai yang paling mematikan dari lima serangan teroris di Inggris.

Abedi sendiri sedang diawasi oleh dinas ketika dia melakukan ke Libya, tetapi kasus pemuda itu ditutup sebulan sebelum dia dievakuasi. Tinjauan Anderson (David Anderson QC/ahli hukum bidang terorisme Inggris) atas serangan Manchester menyimpulkan bahwa tindakan investigasi yang diambil dalam kaitannya dengan Abedi pada 2014, dan keputusan berikutnya untuk menutup dirinya sebagai subjek yang menarik adalah kesimpulan atas dasar yang tersedia pada saat itu.

Tokoh-tokoh sayap kanan terkemuka telah mencela negara-negara Uni Eropa karena menyediakan tempat perlindungan bagi para pengungsi, menggarisbawahi Abedi sebagai contoh risiko yang melekat di diri para migran dari Timur Tengah dan Afrika ke Inggris. Sementara, The Daily Mail mencetak kisah tentang evakuasi Abedi di halaman depannya dengan judul ‘Sickening act of betrayal’ atau ‘Tindakan pengkhianatan yang menyakitkan’.

Leave.EU, salah satu dari dua kelompok besar yang berkampanye untuk Brexit, memposting gabungan di Twitter, termasuk Abedi, ular, dan HMS Enterprise dengan para migran yang diselamatkan. Di seberang tertulis pesan ‘Diselamatkan oleh Angkatan Laut Kerajaan di Libya, Salman Abedi berterima kasih kepada Inggris dengan membom anak-anak kita’.

Anggota masyarakat juga memposting komentar anti-pengungsi di , termasuk Steven Edwards. Dalam akun Facebook pribadinya, ia menulis ‘Membuat saya sakit. Saya memilih untuk meninggalkan Uni Eropa karena alasan utamanya adalah saya tidak ingin lagi migran masuk ke Inggris karena mereka adalah beban besar untuk NHS, pendidikan, kesejahteraan, dan keamanan nasional’.

Loading...