Risalah The Fed Hawkish, Rupiah Justru Tumbang di Akhir Dagang

Risalah yang cenderung hawkish tidak mampu menolong rupiah untuk bangkit ke zona hijau meski pergerakan indeks AS kembali ke jalur pelemahan. Menurut laporan Index pukul 15.58 WIB, Garuda harus memungkasi Kamis (6/7) ini dengan 27 poin atau 0,20% ke level Rp13.392 per dolar AS.

Rupiah sebenarnya sempat membuka dengan penguatan tipis 1 poin atau 0,01% ke posisi Rp13.364 per dolar AS. Namun, istirahat siang, mata uang Garuda berbalik melemah 15 poin atau 0,11% ke level Rp13.380 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.32 WIB, spot masih tertahan di zona merah setelah terdepresiasi 14 poin atau 0,10% ke posisi Rp13.379 per dolar AS.

Dari pasar , pergerakan indeks dolar AS memang cenderung lebih stabil setelah pengumuman risalah rapat kebijakan The Fed sempat mengikis kenaikan yang dibukukan pada perdagangan sebelumnya. Mata uang Paman Sam pada pukul 10.05 WIB hanya turun sebesar 0,011 poin atau 0,01% ke level 96,279, setelah mengalami pelemahan sebesar 0,062 poin atau 0,06% ke posisi 96,228.

Menurut risalah pertemuan kebijakan terbaru The Fed pada 13-14 Juni, para pembuat kebijakan kian terpecah atas prospek dan bagaimana hal itu akan memengaruhi laju kenaikan suku bunga di masa mendatang. Kenaikan dolar AS pada perdagangan sebelumnya langsung terhenti ketika risalah ini dirilis pada hari Rabu (5/7) waktu setempat.

“Secara keseluruhan, dalam pandangan saya, risalah rapat The Fed tersebut terdengar hawkish karena menyebutkan langkah pengurangan neraca dalam waktu dekat,” ujar chief forex strategist di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto, seperti diberitakan Reuters. “Namun, indeks dolar AS masih tergelincir, yang menunjukkan beratnya hal itu.”

Sayangnya, pelemahan yang dialami dolar AS gagal dimanfaatkan rupiah untuk bergerak menguat karena minimnya katalis dari dalam negeri, sedangkan pasar global cenderung bersikap wait and see. Saat ini, pasar menantikan komentar sejumlah pejabat The Fed dan data ekonomi AS, seperti laporan ADP, PMI non-manufaktur, ISM, dan klaim pengangguran awal.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.364 per dolar AS, terdepresiasi 15 poin atau 0,11% dibandingkan perdagangan sebelumnya di level Rp13.349 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak variatif terhadap greenback, dengan penguatan tertinggi dialami yen Jepang sebesar 0,27% dan pelemahan terdalam menghampiri won Korea Selatan sebesar 0,20%.

Loading...