Risalah The Fed Dirilis, Rupiah Mampu Rebound di Awal Dagang

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Jakarta mengawali pagi hari ini, Kamis (24/5) dengan penguatan sebesar 17 poin atau 0,12 persen ke level Rp 14.192 per AS. Sebelumnya, Rabu (23/5), Garuda ditutup terdepresiasi 67 poin atau 0,47 persen ke posisi Rp 14.209 per USD di akhir dagang.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat ke level tertinggi selama 6 bulan terhadap euro. Pada akhir perdagangan Rabu (23/5) atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,40 persen menjadi 93,983 usai risalah pertemuan dirilis dan data di zona Euro menunjukkan perlambatan .

Di akhir perdagangan Rabu (23/5), euro turun 0,70 persen terhadap dolar AS ke tingkat terendah sejak pertengahan November lantaran survei menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi zona Euro melambat jauh lebih tajam dari perkiraan bulan ini. Para pelaku juga saat ini tengah mencerna risalah pertemuan kebijakan yang baru saja dirilis.

Menurut hasil risalah pertemuan The Fed, para pejabat bank sentral AS menganggap periode sementara inflasi sedikit di atas 2 persen akan konsisten dengan target simetris inflasi komite. The Fed juga menunjuk kenaikan suku bunga pada pertemuan Juni 2018. “Ini mungkin akan segera sesuai bagi Komite untuk mengambil langkah lain dalam menghapus kebijakan akomodatif,” demikian bunyi pernyataan The Fed seperti dilansir iNews.

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah pada akhir perdagangan kemarin dipicu oleh ekspektasi hasil notulensi Federal Open Market Committee (FOMC) yang bernada hawkish, sehingga menyeret kurs rupiah jatuh ke level terlemah sejak Oktober 2015. Menurut Ahmad Mikail Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, rupiah juga melemah lantaran terkena imbas aksi jual di pasar obligasi.

Walau begitu, Mikail berpendapat jika pelemahan rupiah sekarang ini masih wajar dan dalam waktu dekat tak akan berpindah ke posisi Rp 14.300/USD. “Rupiah akan stabil saja di level saat ini, karena melihat pasar saham menghijau dengan net buy asing,” jelasnya seperti dilansir Kontan. Kemampuan Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi pasar lewat cadangan devisa pun diperkirakan akan turut membuat gerak rupiah lebih stabil.

Loading...