Risalah The Fed Bikin Rupiah Kembali Menguat Terhadap Dolar AS

Rupiah - berkahtuhan.comRupiah - berkahtuhan.com

Jakarta dibuka menguat 7 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp 14.146 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (11/4). Kemarin, Rabu (10/4), Garuda berakhir terdepresiasi 20 poin atau 0,14 persen ke level Rp 14.153 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS terpantau melemah 0,06 persen menjadi 96,9483. Kemudian pukul 08.02 WIB, indeks dolar AS kembali dibuka melemah 0,02 persen atau 0,02 poin ke 96,926. Pelemahan USD ini ditengarai lantaran para tengah mempertimbangkan risalah pertemuan yang baru dirilis oleh .

The Fed merilis risalah pertemuan kebijakan moneter pada Maret 2019 dengan tidak adanya perubahan dalam suku bunga yang diharapkan pada tahun 2019 ini. “Mayoritas peserta memperkirakan bahwa evolusi prospek dan risiko-risiko terhadap prospek kemungkinan akan menjamin pembiaran kisaran target (suku bunga) tidak berubah untuk sisa tahun ini,” demikian bunyi risalah The Fed, seperti dilansir Antara.

Sementara itu, pada sektor ekonomi Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan indeks konsumen AS naik 0,4 persen pada Maret berdasarkan penyesuaian secara musiman setelah naik 0,2 persen pada Februari lalu. Sedangkan indeks untuk semua barang kecuali makanan dan energi menguat 0,1 persen pada Maret, kenaikan yang sama seperti Februari.

Di sisi lain, rupiah kemarin melemah akibat tertekan berbagai sentimen . Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, langkah IMF memangkas target ekonomi akan mendekati era krisis ekonomi 2008 di regional market. “Sehingga dalam pasar saham cenderung terkoreksi membuat permintaan rupiah loyo,” ujar Josua, seperti dilansir Kontan.

IMF mengungkapkan bahwa ekonomi global kemungkinan akan mengalami sebesar 3,3 persen pada tahun ini, paling lambat sejak 2016. Perkiraan tersebut memangkas 0,2 poin persentase dari proyeksi IMF pada Januari.

Dalam beberapa hari ke depan European Central Bank (ECB) juga akan melakukan rapat untuk menindaklanjuti proyeksi ekonomi Eropa yang kabarnya bakal memberi stimulus pinjaman pada bank di Eropa. “Tampaknya ECB masih dovish,” ucap Josua.

Loading...