Risalah Fed KO Dolar, Rupiah Positif di Akhir Kamis

Rupiah - www.merdeka.comRupiah - www.merdeka.com

JAKARTA – melenggang cukup nyaman sepanjang perdagangan Kamis (10/1) ini, bersama dengan kurs , memanfaatkan pelemahan yang tertekan optimisme bahwa The Fed akan menghentikan siklus pengetatan suku bunga. Menurut Index pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda terpantau menguat 72 poin atau 0,51% menuju level Rp14.053 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.093 per dolar AS, menguat 27 poin atau 0,19% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.120 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia kompak naik melawan greenback, dengan penguatan tertinggi sebesar 0,57% menghampiri rupiah, disusul ringgit Malaysia yang menguat 0,44%.

Dari global, indeks dolar AS memang cenderung bergerak lebih rendah pada hari Kamis, menyusul meningkatnya harapan bahwa Federal Reserve akan menghentikan siklus pengetatan suku bunga mereka pada tahun 2019. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,094 poin atau 0,10% menuju level 95,120 pada pukul 12.50 WIB, setelah kemarin sudah berakhir merah.

Seperti dikutip dari Reuters, risalah dari pertemuan The Fed 18-19 Desember mengungkapkan bahwa beberapa pembuat kebijakan mendukung bank sentral untuk mempertahankan suku bunga stabil tahun ini. Risalah tersebut menggambarkan pembuat kebijakan mengambil pendekatan yang lebih hati-hati terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Keputusan untuk menaikkan suku bunga pada bulan Desember kemarin diambil dengan bulat, tetapi risalah terbaru menunjukkan beberapa peserta tampaknya tidak menyukai perubahan. FOMC meeting juga memerhatikan volatilitas pasar keuangan baru-baru ini dan risiko terhadap prospek secara global.

“The Fed telah mengakui kekhawatiran pasar dengan bahasanya. Pasar jelas membaca ini sebagai sikap yang lebih akomodatif,” terang kepala strategi pasar di CMC Markets di Sydney, Michael McCarthy. “Optimisme pada pembicaraan perdagangan AS-China juga memperkuat sentimen aset risiko, sedangkan kenaikan tajam harga minyak menunjukkan bahwa kekhawatiran pertumbuhan global mungkin berlebihan.”

Loading...