Ring of Fire Bergelora, Alarm untuk Standar Keamanan dan Evakuasi di Asia Tenggara

Standar Keamanan dan Evakuasi di Asia Tenggara - www.wralr.comStandar Keamanan dan Evakuasi di Asia Tenggara - www.wralr.com

BANGKOK/JAKARTA – Jika pada abad ke-20 kemarin beberapa ahli menyebut relatif tenang untuk aktivitas seismik, tidak demikian untuk abad ke-21. Pada 18 tahun pertama saja, sudah ada sekitar 25 letusan berapi yang signifikan secara . Hal tersebut pun menjadi ‘alarm’ untuk dan rencana evakuasi yang lebih baik, terutama di Asia Tenggara yang berada di ‘cincin api’ (ring of fire).

Ketika erupsi Gunung Agung di Bali pada November 2017 lalu, sebanyak 140 ribu orang terpaksa mengungsi untuk mencari perlindungan. Kemudian, pada tanggal 23 Januari kemarin, Gunung Kusatsu-Shirane, sekitar 150 km barat laut Tokyo, mengejutkan Badan Meteorologi Jepang karena tiba-tiba meletus. Pada waktu yang hampir bersamaan, Gunung Mayon di Filipina mulai memuntahkan abu dan lahar, memaksa 56 ribu warga pindah tempat.

Lalu, pada pertengahan Februari 2018, Gunung Sinabung di Sumatera, meletus secara spektakuler, mengirimkan abu super panas sejauh 7 km ke atas langit. Letusan Gunung Sinabung itu diikuti oleh gempa bumi berkekuatan 7,5 skala richter di Papua Nugini pada akhir Februari, sekaligus menjadi yang terburuk dalam satu abad.

“Aktivitas gunung berapi baru-baru ini di Asia memang selalu ada dalam sejarah,” ujar Profesor Yoshiyuki Tatsumi dari Kobe Ocean-Bottom Exploration Center di Kobe University, seperti dilansir . “Kuncinya adalah untuk memastikan bahwa dan para ilmuwan siap untuk letusan sebelum tanda-tanda itu terlihat. Kami harus sadar bahwa kami tinggal di wilayah tempat aktivitas gunung berapi hampir selalu ada.”

Sementara itu, Profesor Anthony Reid dari Universitas Nasional Australia, menuturkan bahwa tantangan cukup besar bagi Indonesia, rumah bagi 127 gunung berapi, yang menjadi paling berbahaya dari antarmuka tektonik dunia. Reid mencatat bahwa Indonesia memiliki abad ke-20 yang ‘ringan’ dalam hal seismik, namun memperingatkan bahwa hal-hal mungkin berubah. “ korban di dekade pertama abad ke-21 sudah jauh melebihi korban dari seluruh abad ke-20,” ujarnya.

Kepulauan Indonesia terletak di tengah empat lempeng tektonik utama, yaitu Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina, yang menjadikannya wilayah di dunia yang paling rentan mengalami gempa. Titik pertemuan dua lempeng, disebut segmen megathrust, membentang antara Selat Sunda dan laut dekat Jakarta. Karena segmen ini belum mengalami gempa dalam beberapa abad terakhir, beberapa ahli khawatir bahwa pergeseran yang kuat sedang dalam ‘perjalanan’ yang dapat memengaruhi ibukota.

“Kami menyebutnya sebagai celah seismik,” papar Danny Hilman Natawidjaja, ahli gempa bumi di Institut Ilmu Pengetahuan Indonesia. “Itu berarti segmen tersebut memiliki potensi gempa besar, karena jumlah energi yang sangat tinggi mungkin telah terakumulasi. Gempa berkekuatan 8,5 skala richter atau lebih sangat mungkin terjadi, tetapi tidak ada cara untuk mengetahui kapan itu akan terjadi.”

Gunung berapi di Indonesia dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, atau PVMBG. Pengamatan ini menyarankan untuk evakuasi tepat waktu. Ketika Gunung Agung meletus pada tahun 1963 silam, itu berlangsung selama satu tahun dan menyebabkan 1.500 orang tewas, sayangnya Presiden Soekarno membatasi berita tersebut karena alasan .

Mengutip kondisi yang terekam dari gunung berapi besar seperti Gunung Agung dan Gunung Semeru di Jawa Timur, Surono, mantan kepala PVMBG, yakin peristiwa seperti letusan Gunung Tambora akan sangat kecil terjadi, dan akan ada banyak kesempatan untuk peringatan dini. “Tidak ada gunung berapi yang meletus tanpa memberikan tanda-tanda awal. Ini seperti hujan yang dimulai dengan gerimis, memberi Anda kesempatan untuk membuka payung,” katanya.

Sebaliknya, di Jepang, Profesor Tatsumi telah menemukan alasan baru untuk lebih peduli. Dalam sebuah makalah di bulan Februari, ia melaporkan keberadaan kubah lava raksasa di sebuah gunung berapi Jepang, Kaldera Kikai, kategori VEI 8 berpotensi 10 kali lebih kuat daripada Gunung Tambora. Menurut Tatsumi, tekanan dibangun di dalam kubah lava lepas pantai, yang terakhir meletus sekitar 7.300 tahun yang lalu.

“Saya membayangkan akan ada tanda-tanda seperti tremor, tetapi manusia belum menentukan mekanisme letusan gunung berapi, bagaimana mereka terjadi,” jelasnya. “Jika meletus, itu bisa membunuh 90 juta orang dalam skenario terburuk, dan akan ada lapisan abu setebal 50 cm di Osaka dan 20 cm di Tokyo jika Kubah Kikai menghantam puncaknya.”

Loading...