Rilis Data Inflasi Indonesia Positif, Rupiah Lanjutkan Penguatan ke Level Rp 14.380/USD

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Jakarta – Rupiah dibuka menguat sebesar 37 poin atau 0,25 persen ke level Rp 14.380 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (4/1). Sebelumnya, Kamis (3/1), mata uang Garuda berakhir terapresiasi 41 poin atau 0,28 persen ke posisi Rp 14.417 per USD menurut data dari Bloomberg Index.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, dolar AS turun 0,52 persen menjadi 96,3131 lantaran data ekonomi yang lemah mengindikasikan bahwa ekonomi Amerika Serikat tengah melambat, sehingga menurunkan minat para pelaku terhadap USD.

Berdasarkan data dari lembaga riset swasta Institute for Supply Management (ISM), indeks AS jatuh menjadi 54,1 pada Desember 2018 dari angka 59,3 pada November 2018. Angka tersebut sekaligus mencatatkan penurunan bulanan terburuk sejak Oktober 2008. Penurunan indeks Amerika Serikat secara luas dianggap sebagai pertanda baru adanya perlambatan ekonomi di tengah ketegangan global di seluruh sektor serta perang dagang antara AS dengan China.

Dari dalam negeri, rupiah berhasil menguat lantaran data yang positif. “Rupiah hari ini menguat karena rilis data Indonesia yang membaik,” ungkap Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim, seperti dilansir Kontan.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (3/1) kemarin melaporkan, inflasi Desember 2018 sebesar 3,13 persen year on year (yoy). Inflasi tahunan di bulan Desember 2018 tersebut sama dengan inflasi keseluruhan tahun 2018. Angka inflasi 2018 tersebut lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar 3,61 persen. Inflasi sebesar 3,13 persen ini juga di bawah asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 3,5 persen.

Lebih lanjut Ibrahim mengatakan bahwa tren rupiah di awal tahun 2019 ini cenderung melemah, namun gerak rupiah terhadap dolar AS masih berada pada taraf yang wajar. Selain itu, pertumbuhan ekonomi global tahun ini juga mengindikasikan pelemahan akibat adanya perang dagang antara AS dengan China yang masih belum mencapai kesepakatan. Indikasi pelemahan ekonomi global juga dapat dilihat dari indeks manufaktur China, Uni Eropa (UE), dan yang lemah. “Sentimen itu membuat pelaku pasar keluar dari mata uang tak terkecuali rupiah,” sambungnya.

Loading...