Kamis Sore, Ancaman Resesi Ekonomi Bikin Rupiah Merah

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

JAKARTA – tidak mampu mengatrol posisi ke area hijau pada Kamis (15/8) sore ketika lebih cenderung memilih aset safe haven didorong kekhawatiran mengenai resesi ekonomi di AS. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.46 WIB, Garuda terpantau melemah 25 poin atau 0,18% ke level Rp14.270 per .

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.296 per dolar AS, terdepresiasi 62 poin atau 0,43% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.234 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,36% dialami peso Filipina.

Dari , indeks dolar AS sebenarnya juga bergerak lebih rendah pada hari Kamis, tertekan tanda-tanda kemerosotan ekonomi , kekhawatiran resesi ekonomi Amerika Serikat, serta turunnya yield Treasury yang membuat investor beralih ke aset safe haven. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,049 poin atau 0,05% ke level 97,938 pada pukul 15.35 WIB.

Diberitakan Reuters, inversi, ketika imbal hasil 2-tahun diperdagangkan lebih tinggi daripada yield Treasury 10-tahun, dianggap oleh beberapa analis sebagai tanda bahwa ekonomi AS kemungkinan akan memasuki masa resesi. Dalam tanda yang mengkhawatirkan bagi investor, imbal hasil Treasury 10-tahun merosot ke level terendah dalam tiga tahun di perdagangan Asia, sementara yield Treasury 30-tahun menembus di bawah level 2% untuk tingkat kebijakan Federal Reserve.

Sentimen keuangan sebelumnya sudah rapuh setelah data ekonomi dari dan Jerman terpengaruh perang perdagangan antara AS dan yang tidak kunjung selesai. Mata uang safe haven, emas, obligasi, dan aset berisiko rendah lainnya akhirnya dapat terus mendapatkan dorongan karena meningkatnya kekhawatiran tentang ekonomi global yang buruk.

“Ketika volatilitas naik, dolar AS terhadap yen Jepang menjadi sangat berkorelasi dengan yield Treasury, sehingga pasangan mata uang memiliki lebih banyak ruang untuk jatuh,” kata ahli strategi valuta asing senior di IG Securities di Tokyo, Junichi Ishikawa. “Saya berharap tempat perlindungan lainnya meningkat. Mood pasar sedang suram, karena perang dagang dan data ekonomi yang buruk.”

Loading...