Rendemen Rendah Akibat Hujan, Harga Tebu Tahun Ini Merosot

Mejayan yang buruk dan tak menentu akhir-akhir ini ternyata mempengaruhi tebu di Kabupaten Madiun. Sebagai akibatnya tebu para petani di Madiun pun semakin rendah kadar gulanya.

Dalam satu kuintal tebu hanya mengandung rendemen sekitar 6,3-6,7 kilogram saja. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, kandungan rendemen tebu tahun 2016 ini telah menyusut drastis. Adanya curah hujan yang tinggi sepanjang tahun ini juga telah mengurangi rendemen tebu.

Kasi Rehabilitasi, Diversifikasi, Lahan dan Infrastruktur Dinas Kehutanan dan (Dishutbun) Kabupaten Madiun, Suwono pun membenarkan hal tersebut. “Di bulan yang sama tahun lalu, dari satu kuintal tebu kandungan rendemennya masih bisa mencapai 7,5-8 kilogram. Hal ini tentu mengakibatkan produksi gula juga menurun,” ujar Suwono.

Lebih lanjut Suwono menjelaskan bahwa keadaan semakin parah karena banyak petani tebu yang beralih menanam komoditas lainnya yang lebih menguntungkan. Luas tanam tebu tahun 2015 lalu yang mencapai 3.389 hektar, tahun ini berkurang menjadi hanya 3.878 hektar saja.

“Alasan utama petani alih tanam karena faktor produksi yang tinggi sementara harga tebu rendah. Tahun lalu, harga tebu dari petani bisa mencapai Rp 50 ribu per kuintal. Namun, tahun ini susut tinggal Rp 42 ribu per kuintal,” paparnya.

Selain di Madiun, kondisi serupa juga dialami para petani tebu di Kabupaten Majalengka. Sebagian besar petani tebu di Majalengka justru mengurangi area tanam tebu karena kurang untuk produksi serta mahalnya harga sewa lahan yang bisa mencapai Rp 10 juta per hektar.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Intensifiasi Kabupaten Majalengka, Enjo, menuturkan, area tanam tebu Majalengka dan Sumedang saat ini hanya 460 hektar, menurun 44 hektar dari tahun lalu yakni 504 hektar.

Loading...