Reli Dolar Berlanjut, Rupiah Melemah di Kamis Sore

Rupiah - www.jitunews.comRupiah - www.jitunews.com

JAKARTA – gagal mengatrol posisi ke teritori hijau pada Kamis (7/2) sore, karena indeks dolar AS terus bergerak menguat di tengah kekhawatiran kemungkinan government shutdown AS dan perang dagang. Menurut Index pukul 15.59 WIB, Garuda melemah 53 poin atau 0,39% ke level Rp13.973 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.978 per dolar AS, terdepresiasi 31 poin atau 0,22% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.947 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,40% dialami rupiah, disusul won Korea Selatan yang turun 0,28%.

Dari , indeks dolar AS terus melanjutkan reli pada hari Kamis, membuat bursa saham di Asia bergerak mixed dan membatasi minat investor terhadap aset berisiko. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,045 poin atau 0,05% menuju level 96,435 pada pukul 12.39 WIB, setelah sebelumnya sudah berakhir naik 0,323 poin atau 0,34% di posisi 96,390 pada hari Rabu (6/2).

Seperti diberitakan Reuters, indeks dolar AS masih bertahan di zona hijau, bergerak di dekat level tertinggi dua minggu pada perdagangan Asia, di tengah kekhawatiran atas pertumbuhan, laporan gaji yang mengecewakan, dan kemungkinan government shutdown AS. Greenback yang lebih kuat lantas membuat emas anjlok, walau masih tetap di level aman.

Meski tetap positif, namun jajak pendapat yang dilakukan Reuters baru-baru ini menuturkan bahwa indeks dolar AS mulai kehilangan daya tariknya. Survei yang diambil pada 31 Januari hingga 6 Februari kemarin menunjukkan greenback diperkirakan akan menyerahkan sebagian keuntungan pada tahun lalu selama tahun 2019 ini.

Tahun lalu, dolar AS mengungguli sekeranjang mata uang utama, karena yang lebih tinggi dan ekonomi AS yang kuat. Namun, hampir 80 persen ahli strategi yang mengikuti jajak pendapat mengatakan bahwa reli dolar AS akan terhenti, menyusul pernyataan dovish Federal Reserve serta kekhawatiran mengenai perang dagang yang tak kunjung usai.

“Tampaknya, kekuatan dolar AS berkat pertumbuhan AS, kenaikan suku bunga Fed yang berkelanjutan, dan kondisi likuiditas yang lebih ketat dari neraca, akan berbalik,” catat ahli strategi di Morgan Stanley. “Data AS, seperti kepercayaan bisnis dan konsumen, menunjukkan perlambatan ekonomi domestik, sedangkan pergeseran retorika The Fed menunjukkan bahwa suku bunga akan lebih rendah.”

Loading...