Reformasi Ekonomi, India Ungguli Indonesia dalam Indeks Kompetitif Global

India melonjak ke urutan 39 pada Global Competitiveness Index berdasarkan rating World Economic Forum (WEF). Lonjakan sebanyak 16 peringkat tersebut juga menjadi yang terbesar tahun ini, sekaligus mengangkangi Indonesia yang harus puas berada di urutan ke-41 dan yang berada di posisi ke-57.

Reformasi di India yang berfokus pada peningkatan lembaga-lembaga publik membuka peluang bagi asing dan internasional serta meningkatkan transparansi dalam . Di tengah perlambatan global, India tetap menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang tergolong cepat dengan 7,6% untuk tahun yang berakhir 31 Maret kemarin, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang mengalami kenaikan 7,2%.

“Daya saing India telah meningkat di seluruh bidang, khususnya dalam efisiensi , kecanggihan bisnis, dan inovasi,” tulis laporan WEF. “Di tengah kebijakan moneter dan fiskal serta harga minyak yang lebih rendah, perekonomian India tetap stabil dan sekarang memiliki pertumbuhan tertinggi di antara 20 negara.”

Tahun lalu, India juga naik sebanyak 16 tangga, sekaligus mengakhiri lima tahun penurunan untuk mengamankan tempat ke-55 dari 140 negara dalam peringkat Global Competitiveness Index. Pembalikan dramatis negara itu diprakarsai oleh Perdana Menteri Narendra Modi yang pro-bisnis, pro-pertumbuhan, dan peningkatan sikap anti-korupsi.

Meski begitu, banyak daerah di India yang masih membutuhkan perbaikan besar-besaran, seperti pasar yang tersegmentasi oleh peraturan yang kaku dan penentuan upah terpusat, terutama di sektor manufaktur, dan jutaan pekerja berstatus informal. WEF juga mencatat aturan kenaikan retribusi pajak dapat menghambat efisiensi pasar .

Selain itu, kurangnya infrastruktur dan kesiapan teknologi tetap menjadi masalah utama. Peraturan pajak dan korupsi juga menjadi faktor yang paling bermasalah untuk melakukan bisnis di India. Adapun kesiapan teknologi, yang bertujuan mengubah bangsa menjadi pusat pengetahuan global dan membuat layanan pemerintah secara elektronik, bisa membawa perbaikan dalam tahun-tahun mendatang.

Sementara Indonesia, mencatat kenaikan yang cukup signifikan dalam hal pengembangan keuangan (naik tujuh peringkat ke posisi 42), namun di bidang kesehatan dan pendidikan dasar hanya mampu bertengger di peringkat ke-100. Adapun kesiapan teknologi berada di peringkat ke-91 dan efisiensi pasar tenaga kerja berkutat di peringkat ke-108.

Global Competitiveness Index sendiri menilai 138 negara dari berbagai aspek seperti lembaga, infrastruktur, lingkungan ekonomi makro, kesehatan, serta pendidikan dasar. Swiss masih menduduki puncak Global Competitiveness Index untuk delapan tahun beruntun, sedangkan Jepang turun dua peringkat ke posisi kedelapan.

Loading...