Selasa Pagi, Rupiah Menguat Jelang Putusan RDG BI

Rupiah - finrollnews.comRupiah - finrollnews.com

JAKARTA – masih mampu bertahan di zona hijau pada Selasa (20/4) pagi menjelang keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Menurut Index pada pukul 09.02 WIB, mata uang Garuda menguat 32,5 poin atau 0 22% ke level Rp14.515 per AS. Sebelumnya, spot ditutup menguat 17,5 poin atau 0,12% di posisi Rp14.547,5 per AS pada hari Senin (19/4) kemarin.

“Penguatan rupiah (kemarin) terjadi seiring dengan penurunan indeks dan imbal hasil obligasi AS,” papar Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, dilansir dari Antara. “Indeks dan yield US Treasury turun setelah Federal Reserve menegaskan kembali pandangan mereka bahwa setiap lonjakan inflasi kemungkinan hanya bersifat sementara.”

Nyaris senada, FS Senior Dealer Bank Sinarmas, Deddy, menuturkan bahwa penguatan rupiah mengikuti pergerakan mata uang besar lainnya yang turut menguat terhadap dolar AS. Hal tersebut terjadi di tengah rilis data dalam negeri yang minim. “Saat ini, pasar tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan akan tetap menahan acuan di level 3,5%,” kata Deddy.

Menurut penjelasan ekonom Bank Mandiri, Faisal Rachman, ruang pemotongan suku bunga memang masih akan terbatas. Sementara, jika dinaikkan, tidak favorable untuk pemulihan . Dikatakannya, dalam jangka pendek ini, lebih baik Bank Indonesia fokus dalam stabilitas rupiah. Apalagi, dari sisi , di kuartal II 2021 biasanya akan ada repatriasi dividen yang bisa menekan pergerakan nilai tukar rupiah.

Sementara itu, ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyampaikan bahwa menguatnya rupiah kemarin disebabkan tren serupa pada pasar non-deliverable forward (NDF). Ia memaparkan, penguatan ini tidak terlepas dari penguatan indeks pada pasar NDF seperti di Hong Kong yang turut memengaruhi sentimen psikologis pada pasar spot.

“Pergerakan rupiah besok (hari ini) salah satunya akan dipengaruhi oleh masalah geopolitik antara AS dan China. Masalah kedua negara yang kini turut melibatkan Jepang berpotensi menekan pergerakan mata uang rupiah,” terang Yusuf, seperti dikutip dari Bisnis. “ antara negara-negara tersebut meningkatkan potensi munculnya perang dagang jilid baru.”

Loading...