Ramadhan di Negeri Muslim, Peluang sekaligus Tantangan untuk Perusahaan Retail Multinasional

Kursrupiah.net – Datangnya bulan suci Ramadhan membuka peluang sekaligus tantangan bagi perusahaan ritel yang memasarkan produk konsumeris dalam upaya memenuhi kebutuhan umat yang sedang berpuasa.

Di Pakistan misalnya, dimana 95% masyarakatnya menganut Islam. Hampir setiap malam di bulan Ramadhan, ratusan orang memadati food court di sebuah pusat perbelanjaan di Karachi.

“Kamu makan dua kali lebih banyak dari biasanya”, kelakar Faisal, pengunjung Food Court sambil menikmati ayam goreng sebagai hidangan buka puasanya.

Di siang hari, muslim berpuasa. Saat tiba malam hari, mereka pergi berbelanja makanan dan pakaian. Di sinilah letak peluang, dimana akan produk makanan dan pakaian selama setahun, 30-40% diantaranya dipasok pada bulan Ramadhan.

Hemant Bakshi, Unilever Indonesia menjelaskan, Ramadhan memegang kunci pertumbuhan perusahaannya. Tahun ini, cabang perusahaan multinasional Anglo-Dutch mempromosikan sampo dengan menambahkan aroma yang diformulasikan khusus untuk wanita berhijab.

Sedangkan di Pakistan, Coca-Cola coba mempopulerkan “doodh soda” yakni campuran air soda dan soda. Hampir sama dengan yang dilakukan oleh kelompok produsen makanan dan minuman di , hanya saja mereka menggunakan Sprite dan susu lokal sebagai produk minumannya.

Namun, semua kecerdikan untuk pengembangan produk tersebut akan sia-sia jika mereka tak jeli melihat fakta bahwa konsumsi selama Ramadhan terbatas pada malam hari. Untuk itu, toko retail Metro asal rela mengubah jam operasional mereka untuk memangkas downtime penjualan. Berkat kesuksesan penjualan minuman manis untuk berbuka puasa pada tahun lalu, Metro kembali memesan minuman tersebut dalam jumlah dua setengah hingga tiga kali lipat lebih banyak.

Di antara perusahaan-perusahaan Jepang, kelompok pakaian Fast Retailing telah bersiap lebih dini menyambut musim belanja Ramadan tahun ini di Bangladesh. Tahun lalu, perusahaan Grameen Uniqlo tidak menawarkan produk baru selama bulan Ramadhan akibat situasi saham perusahaan yang tidak menentu. Namun tahun ini, perusahaan tersebut menawarkan 42 item terbaru, termasuk pakaian tradisional setempat.

Loading...