Raih Laba Tinggi, Maskapai Asia Tenggara Perlu Tambah Rute Baru daripada Turunkan Tiket

penerbangan di perlu menyusun strategi yang lebih berkelanjutan untuk mengantisipasi pasar yang semakin ramai. Operator penerbangan harus beralih ke model yang lebih efisien, seperti penambahan rute, daripada bersaing menawarkan tiket murah seiring harga dunia yang kembali merangkak naik.

“Harga minyak mentah kembali naik dan maskapai penerbangan harus menyusun strategi pertumbuhan yang baru,” kata Paul Yong dari . “Sangat penting bagi mereka untuk beralih ke model bisnis yang lebih efisien daripada terus bersaing di harga tiket pesawat yang murah.”

Lima operator Tenggara tercatat mengalami penurunan pendapatan sekitar 6,5% ke 5,64 miliar AS pada rentang Januari hingga Maret, menurut catatan Nikkei Asian Review. Meski Cebu Air yang beroperasi di Filipina dan AirAsia asal berhasil meraih pertumbuhan dari tahun ke tahun, namun penjualan tiket pesawat milik Thai Airways, , dan Singapore Airlines justru menurun seiring munculnya pemain Timur Tengah yang membuka rute ke Eropa.

Harga minyak mentah yang sempat menyentuh level 45 dolar AS per barel selama tiga bulan pertama tahun 2016 memang membuat maskapai berlomba-lomba menawarkan harga tiket yang lebih murah ke konsumen. Namun, dengan harga minyak yang kembali stabil membuat laba bersih Thai Airways jatuh 48% pada rentang Januari hingga Maret.

Asia Tenggara memang masih memiliki ruang pertumbuhan dengan lalu lintas penumpang udara yang melonjak 53% dari tahun 2010 menjadi 567 miliar pada tahun 2015. Menurut Nomura Securities Malaysia, angka ini diprediksi kembali naik menyentuh 608 miliar penumpang pada tahun 2016. Namun, pembukaan rute baru bisa dilakukan untuk meraih pendapatan yang lebih tinggi daripada sekadar memotong tiket.

AirAsia telah melakukan langkah ini dengan membuka penerbangan langsung dari Bangkok dan Kuala Lumpur menuju Teheran pada bulan Juni. Sementara, Cebu Air juga membangun layanan antara Davao dan kota-kota di Filipina lainnya ke Bangkok dan Hong Kong. Adapun Garuda Indonesia, telah memperluas armada dengan 10 pesawat tahun ini, sembilan di antaranya untuk Citilink yang melayani rute jarak pendek antar-pulau di Indonesia.

Singapore Airlines juga mulai terbang menuju Chennai dan Amritsar di India melalui operator Scoot pada Mei dan akan membuka layanan ke Jaipur pada Oktober mendatang. Perusahaan juga berencana meningkatkan kapasitas dukungan Scoot menjadi 51% dan mengintegrasikan operator, termasuk Tiger Airways, untuk layanan jarak menengah dan murah.

Loading...