Rabu Sore, Rupiah Berakhir Stagnan Jelang Libur Waisak

Rupiah - kumparan.comRupiah - kumparan.com

JAKARTA – Setelah bergerak cukup sepanjang , ternyata terpantau stagnan pada perdagangan Rabu (6/5) sore menjelang Hari Raya Waisak, ketika investor berbondong-bondong mencari aset safe haven di tengah konflik paket stimulus di . Menurut paparan Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda tetap di level Rp15.080 per AS seperti kemarin.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia siang tadi menunjukkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp15.127 per dolar AS, terdepresiasi 23 poin atau 0,15% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.104 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia mayoritas tergelincir, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,37% dialami dolar Taiwan.

Dari , yen menguat ke posisi tertinggi tiga tahun terhadap euro dan tujuh minggu versus dolar AS, setelah keputusan pengadilan menantang partisipasi Jerman dalam program stimulus Eropa dan kekhawatiran tentang pemulihan yang bergelombang membuat para investor ketakutan. Mata uang Jepang diperdagangkan di level 115,09 versus euro dan naik tipis ke 106,22 terhadap greenback.

Seperti diberitakan Reuters, pengadilan tertinggi Jerman pada Selasa (5/5) kemarin memberikan waktu tiga bulan kepada European Central Bank (ECB) untuk memberikan klarifikasi program pembelian obligasi senilai 2,6 triliun. Selama itu, Bank Sentral Jerman, Bundesbank, akan dilarang berpartisipasi dalam skema yang bertujuan meredam efek ekonomi yang disebabkan virus corona. Kabar itu mengirim euro jatuh ke level terendah satu minggu di 1,0826 terhadap dolar AS.

“Yen telah menjadi pilihan mata uang utama sejak krisis (COVID-19) dimulai, dan itu akan terus berlanjut,” papar kepala strategi FX di Societe Generale, Kit Juckes, dalam sebuah catatan. “Tingkat imbal hasil AS adalah pendorong terbesar kekuatan yen dan mereka harus naik sedikit secara global untuk membuat yen melemah.”

Keputusan pengadilan Jerman tidak mungkin sepenuhnya menggagalkan program stimulus Eropa karena ECB diprediksi dapat membenarkan pembelian obligasi. Namun, ketidakpastian yang dihasilkan dapat menjadi tekanan terbaru setelah ada sedikit clash antara . Pandemi di Italia dan Spanyol yang sarat utang dibandingkan Jerman, telah menghidupkan ketegangan antara -negara Eropa utara yang kaya dan miskin di selatan.

Loading...