Rabu Sore, Rupiah Rebound Saat Dolar Fluktuatif

Rupiah - validnews.coRupiah - validnews.co

JAKARTA – Rupiah ternyata mampu bangkit ke teritori hijau pada Rabu (3/7) sore ketika indeks AS berjuang mengembalikan tenaga setelah tertekan penurunan yang dialami imbal hasil Treasury. Menurut Index pada pukul 15.58 WIB, Garuda menguat 19 poin atau 0,13% ke level Rp14.120 per AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.160 per dolar AS, terdepresiasi 20 poin atau 0,14% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.140 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang juga tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,4% dialami won Korea Selatan.

Dari , indeks dolar AS tampak berjuang mengembalikan tenaga hari Rabu karena harapan untuk setiap kesepakatan perdagangan jangka pendek AS-China memudar, yang menghidupkan kembali aset safe haven sekaligus mendorong imbal hasil obligasi AS ke level terendah sejak akhir 2016. Mata uang Paman Sam terpantau hanya menguat tipis 0,034 poin atau 0,04% ke level 96,760 pada pukul 13.20 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, imbal hasil Treasury AS turun ke level terendah sejak akhir 2016, mengekor penurunan imbal hasil di Inggris akibat tertekan komentar bernada dovish dari Gubernur Bank of England (BoE), Mark Carney. Imbal hasil AS terpantau melemah dan menyentuh posisi 1,948% pada Selasa (2/7) malam, terendah sejak November 2016.

Carney pada Selasa waktu setempat mengatakan bahwa perang perdagangan global dan Brexit tanpa kesepakatan meningkatkan risiko terhadap ekonomi Inggris, yang mungkin membutuhkan lebih banyak bantuan untuk mengatasi penurunan. Komentar tersebut mendorong investor untuk meningkatkan taruhan mereka pada pelonggaran kebijakan bank sentral.

“Dolar turun di bawah 108,00 terhadap yen Jepang sehubungan dengan komentar dovish Gubernur BoE, Carney, yang sekaligus menekan hasil obligasi global,” kata ahli strategi senior di Barclays di Tokyo, Shinichiro Kadota. “Imbal hasil menurun karena BoE, sampai sekarang, dipandang sebagai satu-satunya bank sentral yang tidak dovish seperti yang lain.”

Sentimen negatif terhadap aset berisiko semakin bertambah menyusul kembali munculnya kekhawatiran mengenai tens dagang antara AS dan China. Investor khawatir tentang kemungkinan resolusi untuk perang perdagangan selama satu tahun antara dua ekonomi terbesar dunia, terutama mengingat komentar Presiden AS, Donald Trump, bahwa kesepakatan apa pun lebih mempertimbangkan kepentingan AS.

Loading...