Rabu Sore, Rupiah Melonjak Jelang Risalah The Fed

Rupiah - www.covesia.comRupiah - www.covesia.com

JAKARTA – Rupiah mampu mempertahankan posisi di area hijau pada perdagangan Rabu (20/2) sore, ketika investor mengamati dengan saksama risalah yang bakal dirilis hari ini waktu setempat. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda melonjak 59 poin atau 0,42% ke level Rp14.044 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.055 per dolar AS, terapresiasi 64 poin atau 0,45% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.119 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,53% menghampiri won Korea Selatan.

Dari dalam negeri, investor menantikan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan 20-21 Februari 2019. Konsensus yang dihimpun oleh CNBC Indonesia secara aklamasi memperkirakan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 6%. Pasalnya, belum ada urgensi bagi Bank Indonesia untuk mengubah BI 7-Day Reverse Repo Rate.

“Dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dilaksanakan hari ini dan besok, BI diperkirakan masih akan menahan BI 7DRR di level 6%,” tutur senior Vice President (SVP) chief economist BNI, Ryan Kiryanto. “Hal ini sesuai dengan stan cepolicy BI dan Kementerian Keuangan yang senada, yaitu stability overgrowth.”

Sementara, dari pasar global, pergerakan indeks dolar AS relatif terbatas pada hari Rabu, imbas penurunan imbal hasil obligasi AS sebelum risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve. Mata uang Paman Sam terpantau hanya menguat tipis 0,038 poin atau 0,04% ke level 96,558 pada pukul 12.55 WIB, setelah kemarin ditutup melemah 0,384 poin atau 0,40%.

Seperti diberitakan Reuters, benchmark imbal hasil Treasury AS 10-tahun turun tajam ke level terendah dalam 11 hari pada Selasa (19/2) kemarin menjelang risalah pertemuan yang akan dirilis Rabu waktu setempat. Risalah dari pertemuan bulan Januari akan dipantau secara ketat oleh pasar setelah pernyataan dovish di review itu.

“Pergerakan dolar AS dibebani dengan imbal hasil obligasi yang mengalami penurunan,” ujar ahli strategi mata uang senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki. “Upaya oleh investor untuk memberi nilai pada risalah rapat FOMC (Komite Pasar Terbuka Federal) yang berpotensi dovish juga menjaga dolar AS tetap pada posisi defensif.”

Loading...