Rabu Sore, Rupiah Ditutup Melemah Jelang Putusan The Fed

Rupiah - inapex.co.idRupiah - inapex.co.id

JAKARTA – harus puas tertahan di teritori merah pada Rabu (28/4) sore ketika pelaku cenderung bersikap hati-hati menunggu hasil rapat kebijakan dan pidato Presiden AS. Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 15 poin atau 0,10% ke level Rp14.500 per .

Pagi tadi, CNBC Indonesia sudah memprediksi bahwa rupiah akan mengalami penurunan pada perdagangan hari ini. Pasalnya, tanda-tanda depresiasi mata uang Merah Putih sudah tampak di pasar Non-Deliverable Market (NDF). Pasar NDF memang seringkali memengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot, sehingga kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Sementara itu, analisis tim riset Monex Investindo Futures, seperti dikutip dari Medcom, menuturkan bahwa dolar AS tampaknya menguat pada awal sesi Rabu setelah tingkat imbal hasil pemerintah AS kembali menguat dan bergerak di atas level 1,6%. Meski demikian, pelaku pasar tetap bersikap hati-hati menjelang pengumuman kebijakan Federal Reserve pada Kamis (29/4) pagi WIB.

Dari pasar , indeks dolar AS mampu bergerak lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama, ketika investor bersiap untuk mengambil isyarat dari rapat kebijakan dan pidato Presiden AS, Joe Biden. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,091 poin atau 0,10% ke level 91,001 pada pukul 11.34 WIB, memantul dari posisi 90,679 pada Senin (26/4), yang merupakan level terendah sejak 3 Maret 2021.

Seperti diwartakan Reuters, pada hari Rabu waktu setempat, AS diperkirakan akan mempertahankan pengaturan kebijakannya, sedangkan Gubernur The Fed, Jerome Powell, tampaknya masih akan mengulangi pesan dovish. Meski demikian, beberapa analis mengatakan tanda-tanda ekspektasi inflasi yang meningkat dapat mendorong The Fed untuk meninggalkan retorikanya bahwa pengetatan kebijakan masih jauh.

Ekspektasi inflasi investor, diukur dengan tingkat impas inflasi (BEI) yang dihitung dari obligasi terkait inflasi AS, naik di atas 2,40% pada hari Selasa (27/4) atau level tertinggi sejak 2013. “Di satu sisi, kenaikan BEI di atas 2% adalah apa yang diharapkan The Fed. Namun, jika terlalu berlebihan, hal itu dapat meningkatkan kewaspadaan mereka,” kata kepala FX strategist di SMBC Nikko Securities, Makoto Noji.

Loading...