Rabu Sore, Rupiah Merah Seiring Gerak Kurs Asia

Rupiah - radarsukabumi.comRupiah - radarsukabumi.com

JAKARTA – harus terbenam di area merah pada perdagangan Rabu (18/11) sore seiring dengan pergerakan sejumlah di tengah gelombang kasus COVID-19 yang kembali menyerang banyak negara dunia. Menurut catatan Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir melemah 15 poin atau 0,11% ke level Rp14.070 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.118 per dolar AS, terdepresiasi 0,32% dari sebelumnya di level Rp14.073 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, berbagai mata uang utama Asia juga tidak berdaya melawan , menyisakan yen Jepang, ringgit Malaysia, peso Filipina, dan dolar Taiwan di jalur hijau.

Sebaliknya, yuan China bertahan mendekati level tertinggi 29 bulan terhadap dolar AS pada hari Rabu, karena mata uang AS tetap di bawah tekanan dan setelah bank sentral menetapkan titik tengah yang lebih kuat. Yuan sebelumnya menyelesaikan sesi lokal pada level tertinggi sejak 26 Juni 2018 pada hari Selasa (17/11), meskipun greenback dibeli oleh bank-bank besar milik negara yang diduga beberapa pedagang sebagai upaya untuk memperlambat kenaikan mata uang China pada level 6,5 per dolar AS.

Indeks dolar AS, sementara itu, melemah 0,154 poin atau 0,17% ke level 92.258 pada pukul 14.53 WIB terhadap sekeranjang mata uang utama, setelah jatuh ke level terendah satu minggu pada transaksi sebelumnya. Prospek untuk mata uang ini tetap suram, dengan dan Kongres AS siap untuk berbuat lebih banyak untuk meringankan kerusakan ekonomi akibat COVID-19.

Sebelum pembukaan , People’s Bank of China menetapkan suku bunga titik tengah pada level 6,5593 per dolar AS, 169 poin lebih kuat dari penetapan sebelumnya di posisi 6,5762, dan yang terkuat sejak 27 Juni 2018. spot dibuka pada level 6,5540 per dolar AS dan berpindah ke posisi 6,5538 pada tengah hari, 37 poin lebih kuat dari penutupan sesi sebelumnya.

“Arus keluar modal China akan turun secara substansial karena sekarang sulit bagi turis China untuk bepergian ke luar negeri di tengah gelombang COVID-19 secara , memberikan beberapa dukungan untuk mata uang negara,” kata ahli strategi valas di Everbright Sun Hung Kai di Hong Kong, Bruce Yam, dilansir Reuters . “Selain itu, pembentukan RCEP yang didukung China, juga akan meningkatkan yuan.”

Lima belas ekonomi Asia-Pasifik sebelumnya menandatangani apa yang bisa menjadi perjanjian perdagangan bebas terbesar di dunia pada hari Minggu (15/11), mencakup hampir sepertiga dari populasi global dan sekitar 30% dari produk domestik bruto. Secara terpisah, Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan bahwa China akan mendorong pertumbuhan ekonomi ke kisaran yang ‘masuk akal’ dan mengejar pembangunan yang lebih berkualitas.

Loading...