Rabu Sore, Rupiah Drop Seiring Pergerakan Mata Uang Asia

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Seperti mayoritas mata uang , tidak mampu memanfaatkan pelemahan tipis yang dialami dolar AS untuk bangkit ke zona hijau pada Rabu (29/8) sore. Menurut Yahoo Finance pukul 15.56 WIB, mata uang Garuda melemah 33 poin atau 0,23% ke level Rp14.650 per dolar AS. Sementara, menurut Bloomberg Index pukul 11.51 WIB, spot turun 19 poin atau 0,13% ke Rp14.645 per dolar AS.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.643 per dolar AS, terdepresiasi 29 poin atau 0,2% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.614 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia takluk versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,34% menghampiri baht Thailand.

Dari , indeks dolar AS sebenarnya sedikit bergerak melemah pada hari Rabu, seiring dengan kekhawatiran yang masih menyelimuti terkait perang dagang. Mata uang Paman Sam terpantau turun tipis 0,011 poin atau 0,01% ke level 94,709 pada pukul 11.03 WIB, setelah kemarin sudah berakhir drop 0,059 poin atau 0,06% di posisi 94,720.

“Para investor saat ini sedang mengamati perkembangan-perkembangan dalam sengketa perdagangan AS-China secara saksama,” ujar kepala strategi mata uang di MUFG Bank di Tokyo, Minori Uchida, dilansir Reuters. “Pelemahan dolar AS baru-baru ini telah melunak karena disokong keuntungan pasar saham Paman Sam. Selama saham baik, saya tidak berpikir bahwa greenback akan melorot tajam.”

Selain itu, kinerja dolar AS juga terkatrol laporan yang mengatakan bahwa indeks kepercayaan itu pada bulan Agustus 2018 naik ke level tertinggi sejak Oktober 2000. Indeks kepercayaan konsumen The Conference Board berada di angka 133,4, naik dari perolehan di bulan Juli 2018 yang berada di angka 127,9.

Sementara itu, kepala strategi mata uang di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto, menuturkan bahwa renminbi China akan menerima tekanan ke bawah, diikuti dengan mata yang Asia lainnya dan dolar Australia. Dalam jangka pendek, investor akan mengalihkan fokus mereka ke mata uang negara berkembang karena volatilitas untuk pasangan mata uang utama seperti dolar AS/yen Jepang rendah.

“Ketika pasangan mata yang utama tidak bergerak, spekulan akan cenderung beralih karena ada kesempatan terbatas untuk menghasilkan dalam volatilitas mata uang yang rendah,” ujar Yamamoto. “Saya khawatir bahwa mata uang negara berkembang seperti real Brasil, lira Turki, rubel Rusia, dan rand Afrika Selatan akan menerima tekanan yang paling kuat.”

Loading...