Rabu Sore, Rupiah Drop Seiring Mayoritas Kurs Asia

Rupiah - republika.co.idRupiah - republika.co.id

JAKARTA – praktis tidak memiliki tenaga untuk bergerak ke zona hijau pada Rabu (27/3) sore, karena indeks AS masih cukup kuat meski kepercayaan di Negeri Paman Sam dilaporkan kembali turun. Menurut catatan Index pada pukul 15.48 WIB, mata uang Garuda melemah 35 poin atau 0,25% ke level Rp14.208 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.202 per dolar AS, terdepresiasi 31 poin atau 0,22% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.171 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,36% menghampiri baht Thailand.

Dari , indeks dolar AS terpantau bergerak lebih tinggi pada hari Rabu, sedangkan mata uang Selandia Baru beringsut turun setelah bank sentral setempat mengejutkan pasar dengan membuka kesempatan untuk pelonggaran kebijakan moneter di masa depan. Mata uang Paman Sam menguat 0,039 poin atau 0,04% ke level 96,775 pada pukul 15.49 WIB.

Seperti diberitakan Bloomberg, sebenarnya terbaru menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen AS menurun untuk keempat kalinya dalam lima bulan terakhir, menunjukkan bahwa pertumbuhan kuartal pertama yang lemah dan kenaikan lapangan kerja yang lebih lambat di bulan Februari. Index Conference Board turun menjadi 124,1 dari 131,4, berbanding terbalik dari prediksi ekonom.

“Kepercayaan konsumen kembali melemah. Tetapi kami belum khawatir tentang penghematan dalam pengeluaran,” tutur ekonom senior di Wells Fargo & Co., Tim Quinlan, dalam sebuah laporan. “Aksi jual pasar akhir tahun lalu kemungkinan memainkan peran, dan meskipun ekuitas telah mengganti kembali beberapa kerugian, kepercayaan belum sepenuhnya pulih.”

Meski begitu, indeks dolar AS masih memiliki pijakan yang kuat setelah mengalami kenaikan pada hari Selasa (26/3), ketika imbal hasil Treasury 10-tahun rebound karena kenaikan saham di Wall Street. Selain itu, pandangan negatif terhadap prospek ekonomi zona Eropa, yang tidak menguntungkan euro, menjadi katalis bagi greenback.

Loading...